Senin, 31 Januari 2011

Suara Manja Berubah Seiring Waktu

Teringat..
Dahulu..

Bu.. pak..
Bu.. ayah..
Mah.. pah..
Bun.. Abi..

"Gendong"(suara manja keluar
dari mulut kita).


Teringat..
Dahulu..

"Suapin"(suara manja
keluar dari mulut kita)


Teringat..
Dahulu..

"Temenin adek ke
kamar mandi, "takut"..

Teringat..
Sekarang..

Ah cerewet amat sih nih orang
tua..

Teringat..
Sekarang..

Pelit amat sih ama anak!

Teringat..
Sekarang..

Kenapa sih gw punya orang
tua miskin?

Dahulu dengan Sekarang..

Apa yang telah kita berikan??

Apa yang telah kita lakukan??

Dan ingatlah ketika Luqman,
berkata kepada anaknya.
Bersyukur kepada Allah dan
kepada kedua orang tuamu..

Seorang ayah, yang memberi
pesan kepada anaknya untuk
mendirikan shalat, jangan
mempersekutukan Allah,
memperlakukan kedua orang
tua dengan baik, menanamkan
bahwa hanya kepada Allah
tempat kita kembali.

Seorang
ayah yang berkata kepada
anaknya, bahwa setiap
kebaikan akan dibalas oleh
Allah,

berkata kepada anaknya
untuk berbuat yang makruf
dan mencegah perbuatan yang
mungkar, bersabar terhadap
apa yang menimpa diri kita,
dan mengingatkan supaya diri
kita jangan sombong.(QS 31:
13-19)

Ini lah pesan yang mungkin
dahulu orang tua kita berikan..

Wahai ayahku.. sesungguhnya
aku bermimpi melihat sebelas
bintang, matahari, dan bulan,
kulihat semuanya sujud padaku,

lalu Ayahnya nabi Yusuf
berkata, janganlah engkau
cerita kepada saudara -
saudaramu, mereka akan
membuat tipu daya untuk
membinasakanmu.

Sungguh
setan itu musuh yang jelas
bagi manusia(QS 12: 4-5)

Dahulu tempat kita cerita
adalah kedua orang tua kita..

Sekarang, kita lebih meminta
pendapat, kita lebih terbuka
kepada orang lain dibanding
kedua orang tua kita..

Ketika pasukan firaun,
melakukan inspeksi, interogasi
ke seluruh wilayah, mencari
setiap anak laki - laki yang baru
lahir untuk dibunuh,

“Dan kami ilhamkan
kepada ibu Musa ; “Susuilah
dia dan apabila kamu khawatir
terhadapnya maka jatuhkanlah
dia ke sungai (Nil). Dan
janganlah kamu khawatir dan
jangan (pula) bersedih hati,
karena sesungguh-nya Kami
akan mengembalikannya
kepadamu, dan menjadikannya
(salah seorang) dari para
rasul ”. (QS: Al-Qashash: 7).

Ibu kita..
melindungi
kita, menyayangi kita,

"Ibunya
telah mengandungnya dalam
keadaan yang lemah
yang"bertambah - tambah dan
menyapihnya dalam usia dua
tahun"(QS 31:14)

9 bulan bukan waktu
yang sebentar sahabat, dengan
membawa kita, dengan kondisi
kandungan yang sangat
rentan, perlu kehatian - hatian..

Sungguh, apa - apa yang kita
berikan, apa - apa bakti kita,
belum mampu menandingi
pada saat kita ibu kita
mengandung..

Apalagi
menandingi kasih sayang ibu
kita selama ini, doa - doa,
nasehat - nasehat yang
diberikan.

Rasulullah Shallallahu’alaihi
wasallam bersabda :
Apabila seorang anak Adam
meninggal, maka akan
terputus amalannya kecuali
tiga perkara :
1. Shadaqoh jariyah
2. Ilmu yang bermanfaat,
3. Doa anak shalih.

di surga, bersama kedua orang
tua.

Dan, Semesta pun Kehilangan Pelita Terindahnya

Ketika Al-Musthafa berada
dihadapan Ku pandangi
pesonanya dari ujung kaki hingga
kepala, Tahukah kalian apa yang
terjelma? Cinta!(Abu Bakar ra)
eramuslim - Nabi demam kembali,
kini panasnya semakin tinggi.
Lemah ia berbaring,
menghadapkan wajah pada
Fatimah anak kesayangan. Sudah
beberapa hari terakhir,
kesehatannya tidak lagi menawan.
Senin itu, kediaman manusia
paripurna didatangi seorang
berkebangsaan Arab dengan
wajah rupawan. Di depan pintu, ia
mengucapkan salam
"Assalamu’alaikum duhai para
keluarga Nabi dan sumber
kerasulan, bolehkah saya
menjumpai kekasih Allah?".
Fatimah yang sedang mengurusi
ayahnya, tegak dan berdiri di
belakang pintu "Wahai Abdullah,
Rasulullah sedang sibuk dengan
dirinya sendiri". Fatimah berharap
tamu itu mengerti dan pergi,
namun suara asing semula kembali
mengucapkan salam yang
pertama.
"Alaikumussalam, hai hamba Allah"
kali ini Nabi yang menjawabnya.
"Anakku sayang, tahukah engkau
siapakah yang kini sedang berada
di luar?"
"Tidak tahu ayah, bulu kudukku
meremang mendengar suaranya"
"Sayang, dengarkan baik-baik, di
luar itu adalah dia, pemusnah
kesenangan dunia, pemutus nafas
di raga dan penambah ramai para
ahli kubur". Jawaban nabi terakhir
membuat fatimah jatuh terduduk.
Fatimah menangis seperti anak
kecil.
"Ayah, kapan lagi aku akan
mendengar dirimu bertutur, harus
bagaimana aku menuntaskan
kerinduan kasih sayang engkau,
tak akan lagi ku memandang
wajah kesayangan ayahanda"
pedih Fatimah. Nabi tersenyum,
lirih ia memanggil " Sayang,
mendekatlah, kemarikan
pendengaranmu sebentar".
Fatimah menurut, dan Kekasih
Allah itu berbisik mesra di telinga
anaknya, "Engkau adalah
keluargaku yang pertama kali
menyusul sebentar kemudian".
Seketika wajah fatimah tidak lagi
pasi tapi bersinar.
Lalu kemudian, Fatimah
mempersilahkan tamu itu masuk.
Malaikat pencabut maut berparas
jelita itu pun kini berada di
samping Muhammad.
"Assalamu’alaikum ya utusan Allah"
dengan takzim malaikat memberi
salam.
"Salam sejahtera juga untukmu
pelaksana perintah Allah, apakah
tugasmu saat ini, berziarah
ataukah mencabut nyawa si
lemah?" tanya nabi. Angin
berhembus dingin.
"Aku datang untuk keduanya,
berziarah dan mencabut
nyawamu, itupun setelah engkau
perkenankan, jika tidak Allah
memerintahkanku untuk kembali"
"Di manakah engkau tinggalkan
Jibril? Duhai izrail?"
"Ia ku tinggal di atas langit dunia".
Tak lama kemudian, Jibril pun
datang dan memberikan salam
kepada seseorang yang juga
dicintanya karena Allah.
"Ya Jibril, gembirakanlah aku saat
ini" pinta Al-Musthafa.
Terdengar Jibril bersuara pelan di
dekat telinga manusia pilihan,
"Sesungguhnya pintu langit telah
di buka, dan para Malaikat tengah
berbaris menunggu sebuah
kedatangan, bahkan pintu-pintu
surga juga telah di lapangkan
hingga terlihat para bidadari yang
telah berhias menyongsong
kehadiran yang paling ditunggu-
tunggu".
"Alhamdulillah, betapa Allah maha
penyayang" sendu Nabi, wajahnya
masih saja pucat pasi.
"Dan Jibril, masukkan kesenangan
dalam hati ini, bagaimana keadaan
ummatku nanti".
"Aku beri engkau sebuah kabar
akbar, Allah telah berfirman,
"Sesungguhnya Aku, telah
mengharamkan surga bagi semua
Nabi, sebelum engkau
memasukinya pertama kali, dan
Allah mengharamkan pula sekalian
umat manusia sebelum
pengikutmu yang terlebih dahulu
memasukinya" Jawaban Jibril itu
begitu berpengaruh. Maha suci
Allah, wajah Nabi dilingkupi denyar
cahaya. Nabi tersenyum gembira.
Betapa ia seperti tidak sakit lagi.
Dan ia pun menyuruh malaikat
izrail mendekat dan menjalankan
amanah Allah.
Izrail, melakukan tugasnya.
Perlahan anggota tubuh pembawa
cahaya kepada dunia satu persatu
tidak bergerak lagi. Nafas manusia
pembawa berita gembira itu
semakin terhembus jarang.
Pandangan manusia pemberi
peringatan itu kian meredup sunyi.
Hingga ketika ruhnya telah berada
di pusat dan dalam genggaman
Izrail, nabi sempat bertutur,
"Alangkah beratnya penderitaan
maut". Jibril berpaling tak sanggup
memandangi sosok yang selalu ia
dampingi di segala situasi.
"Apakah engkau membenciku
Jibril"
"Siapakah yang sampai hati
melihatmu dalam keadaan sekarat
ini, duhai cinta," jawabnya sendu.
Sebelum segala tentang manusia
terindah ini menjadi kenangan,
dari bibir manis itu terdengar
panggilan perlahan "Ummatku …
Ummatku….". Dan ia pun dengan
sempurna kembali. Nabi
Muhammad Saw, pergi dengan
tersenyum, pada hari senin 12
Rabi'ul Awal, ketika matahari telah
tergelincir, dalam usia 63 tahun.
Muhammad, Nabi yang Ummi,
Kekasih para sahabat di masanya
dan di sepanjang usia semesta,
meninggalkan gemilang cahaya
kepada dunia. Muhammad,
pemberi peringatan kepada semua
manusia, menorehkan dalam-
dalam tinta keikhlasan di lembaran
sejarah. Muhammad, yang
bersumpah dengan banyak
panorama indah alam: "demi siang
bila datang dengan benderang
cahaya, demi malam ketika telah
mengembang, demi matahari
sepenggalah naik", telah
membumbungkan Islam kepada
cakrawala megah di angkasa sana.
Ia, Muhammad, menembus setiap
gendang telinga sahabatnya
dengan banyak kuntum-kuntum
sabda pengarah dalam menjalani
kehidupan. Ia, Muhammad, yang di
sanjung semua malaikat di setiap
tingkatan langit, berbicara tentang
surga, sebagai tebusan utama,
bagi setiap amalan yang
dikerjakan. Ia, Muhammad yang
selalu menyayangi fakir miskin dan
anak yatim, menggelorakan
perintah untuk senantiasa
memperhatikan manusia lain yang
berkekurangan. Dan Ia,
Muhammad, tak akan pernah
kembali lagi.
Sungguh, Madinah berubah kelabu.
Banyak manusia terlunta di sana.
Dan Aisyah ra, yang pangkuannya
menjadi tempat singgah kepala
Rasulullah di saat terakhir
kehidupannya, menyenandungkan
syair kenangan untuk sang
penerang, suaranya bening.
Syahdunya membumbung ke jauh
angkasa. Beginilah Aisyah
menyanjung sang Nabi yang telah
pergi:
Wahai manusia yang tidak
sekalipun mengenakan sutera,
Yang tidak pernah sejeda pun
membaringkan raga pada
empuknya tilam Wahai kekasih
yang kini telah meninggalkan
dunia, Ku tau perut mu tak pernah
kenyang dengan pulut lembut roti
gandum
Duhai, yang lebih memilih tikar
sebagai alas pembaringan Duhai,
yang tidak pernah terlelap
sepanjang malam karena takut
sentuhan neraka Sa ’ir
Dan Umar r.a yang paling dekat
dengan musuh di setiap medan
jihad itu, kini menghunus pedang.
Pedang itu menurutnya
diperuntukkan untuk setiap mulut
yang berani menyebut kekasih
kesayangannya telah kembali
kepada Allah. Umar tatap wajah-
wajah para sahabat itu setajam
mata pedangnya, meyakinkan
mereka bahwa Umar sungguh-
sungguh. Umar terguncang. Umar
bersumpah. Umar berteriak
lantang. Umar menjadi sedemikian
garang. Ia berdiri di hadapan para
sahabat yang terlunta-lunta
menunggu kabar manusia yang
dicinta.
Dan Abu Bakar, sahabat yang
paling lembut hatinya, melangkah
pelan menuju jasad manusia mulia.
Langkahnya berjinjit, khawatir kan
mengganggu seseorang yang
tidur berkekalan, pandangannya
lurus pada sesosok cinta yang
dikasihinya sejak pertama
berjumpa. Raga berparas
rembulan itu kini bertutup kain
selubung. Abu bakar hampir
pingsan. Nafasnya berhenti
berhembus, tertahan. Sekuat
tenaga, ia bersimpuh di depan
jasad wangi al-Musthafa. Ingin
sekali membuka penutup wajah
yang disayangi arakan awan,
disanjung hembusan angin dan
dielu-elukan kerlip gemintang,
namun tangannya selalu saja
gemetar. Lama Abu bakar
termenung di depan jenazah
pembawa berkah. Akhirnya, demi
keyakinannya kepada Allah, demi
matahari yang masih akan terbit,
demi mendengar rintihan pedih
ummat di luar, Abu bakar mengais
sisa-sisa keberanian. Jemarinya
perlahan mendekati penutup
tubuh suci Rasulullah, dan
dijumpailah, wajah yang tak
pernah menjemukan itu. Abu
bakar memesrai Nabi dengan
mengecup kening indahnya.
Hampir tak terdengar ia berucap,
"Demi ayah dan bunda, indah nian
hidupmu, dan indah pula
kematianmu. Kekasih, engkau
memang telah pergi". Abu bakar
menunduk. Abu Bakar mematung.
Abu Bakar berdoa di depan tubuh
nabi yang telah sunyi.
Dan Bilal bin Rabah, yang suaranya
selalu memenuhi udara Madinah
dengan lantunan adzan itu, tak lagi
mampu berseru di ketinggian
menara mesjid. Suaranya selalu
hilang pada saat akan menyebut
nama kekasih ‘Muhammad’. Di
dekat angkasa, seruannya berubah
pekik tangisan. Tak jauh dari
langit, suaranya menjelma isak
pedih yang tak henti. Setiap berdiri
kukuh untuk mengumandangkan
adzan, bayangan Purnama
Madinah selalu saja jelas
tergambar. Tiap ingin menyeru
manusia untuk menjumpai Allah,
lidahnya hanya mampu berucap
lembut, "Aku mencintaimu duhai
Muhammad, aku merindukanmu
kekasih". Bilal, budak hitam yang
kerap di sanjung Nabi karena
suara merdunya, kini hanya
mampu mengenang Sang kekasih
sambil menatap bola raksasa pergi
di kaki langit.
Dan, terlalu banyak cinta yang
menderas di setiap jengkal lembah
madinah. Yang tak pernah bisa
diungkapkan. Semesta menangis.
***
Sahabat, Sang penerang telah
pergi menemui yang Maha tinggi.
Purnama Madinah telah kembali,
menjumpai kekasih yang merindui.
Dan semesta, kehilangan pelita
terindahnya. Saya mengenangmu
ya Rasulullah, meski hanya dengan
setitik tinta pena. Saya
mengingatimu duhai pembawa
cahaya dunia, meski hanya dengan
selaksa kata. Dan saya meminjam
untaian indah peredam gemuruh
dada, yang dilafadzkan Hasan Bin
Tsabit, salah seorang sahabat
penyair dari masa mu:
Engkau adalah ke dua biji mata ini
Dengan kepergianmu yang
anggun, Aku seketika menjelma
menjadi seorang buta Yang tak
perkasa lagi melihat cahaya
Siapapun yang ingin mati
mengikutimu Biarlah ia pergi
menemui ajalnya, Dan Aku, Hanya
risau dan haru dengan kepergian
terindah mu
Sahabat, kenanglah Nabi
Muhammad Saw, meski dalam
kelengangan yang sempurna, agar
hal ini menjadi obat ajaib, penawar
dan penyembuh kegersangan hati
yang kerap berkunjung. Agar, di
akhirat kelak, dengan agung Nabi
memanggil semua manusia yang
senantiasa merindukan dan
mencintainya. Adakah yang paling
mempesona dihadapanmu, ketika
suara suci Nabi menyapamu
anggun, menjumpaimu dengan
paras yang tak pernah kau mampu
bayangkan sebelumnya. Adakah
yang paling membahagiakan di
kedalaman hatimu, ketika sesosok
yang paling kau cinta sepenuh
jiwa dan raga, berada nyata di
dekatmu dan menemuimu dengan
senyuman yang paling manis
menembusi relung kalbu. Dan
adakah di dunia ini yang paling
menerbangkan perasaanmu ke
angkasa, ketika jemari terkasih
menggapaimu untuk memberikan
naungan perlindungan dari siksa
pedih azab neraka. Adakah
sahabat???
Jika saat ini ada yang bening di
kedua sudut kelopak matamu,
berbahagialah, karena mudah-
mudahan ini sebuah pertanda.
Pertanda cinta tak bermuara. Dan,
ketika kau tak dapati air mata saat
ini, kau sungguh mampu
menyimpan cinta itu di dasar
hatimu.
Salam saya, untuk semua sahabat.
Mari bersama bergenggaman,
saling mengingatkan, saling
memberikan keindahan ukhuwah
yang telah Rasulullah tercinta
ajarkan. Mari Sahabat!

Minggu, 09 Januari 2011

test.. test..

haha,, akhirnya kesampean juga buat blog,, walopun masih sederhana.. haha