Krisis adalah takdir semua bangsa. la tidak perlu disesali. Apalagi
dikutuk. Kita hanya perlu meyakini sebuah kaidah, bahwa masalah kita bukan pada
krisis itu. Bahwa ketika akhir-akhir ini krisis besar melanda negeri,
"kita justru mengalami kelangkaan pahlawan". bahwa dengan demikian
telah tampak "isyarat kematian sebuah bangsa".
Pahlawan yang didambakan bukan saja pahlawan yang membebaskan bangsa
dari krisis besar atau pahlawan di medan peperangan gawat, tapi pahlawan dunia
pemikiran, pendidikan, keilmuan, pebisnis, kesenian dan kebudayaan. Sejarah
sesungguhnya "merupakan industri para pahlawan." Dalam "skala
peradaban" setiap bangsa bergiliran "merebut piala
kepahlawanan." Mereka selalu muncul di saat-saat sulit, atau sengaja
(Allah) lahir (kan mereka) di tengah situasi yang sulit. Pahlawan sejati
senantiasa pemberani sejati.
Keberanian itu fitrah tertanam pada diri seseorang, atau diperoleh
melalui latihan. Keduanya ini berpijak kuat pada keyakinan dan cinta yang kuat
terhadap prinsip dan jalan hidup, kepercayaan pada hari akhirat, dan kerinduan
yang menderu-deru untuk bertemu Allah. Dengarlah nasihat Umar bin Khattab:
"Ajarkanlah sastra kepada anakanakmu, karena itu dapat mengubah anak yang
pengecut menjadi pemberani."
Pahlawan dari generasi sahabat punya daya cipta sarana materi di tiga
wilayah: di medan perang, dalam percaturan politik dan di dunia bisnis.
Pahlawan mukmin sejati tidak membuang energy mereka untuk memikirkan apakah ia
akan ditempatkan dalam sejarah manusia, apakah ia akan ditempatkan dalam liang
lahat Taman Pahlawan. Yang mereka pikirkan ialah bagaimana meraih posisi paling
terhormat di sisi Allah SWT. Kata kunci mencapai ini adalah keikhlasan. Inilah
yang membedakan mereka dengan pahlawan sekuler. Sama menderita masuk penjara,
sama terbuai di tiang gantungan, tapi yang satu karena dunia fana, dan yang
satu lagi karena Allah semata.
Pahlawan bukanlah orang suci dari langit yang diturunkan ke bumi untuk
menyelesaikan persoalan manusia dengan mukjizat, secepat kilat untuk kemudian
kembali ke langit. Pahlawan adalah orang biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan
besar, dalam sunyi yang panjang, sampai waktu mereka habis. Mereka juga
melakukan kesalahan dan dosa. Mereka bukan malaikat. Mereka hanya manusia biasa
yang berusaha memaksimalkan seluruh kemampuannya untuk memberikan yang terbaik
bagi orang-orang di sekelilingnya. Mereka merakit kerja-kerja kecil jadi sebuah
gunung: karya kepahlawanan adalah tabungan jiwa dalam masa yang lama.
Orang-orang biasa yang melakukan kerja-kerja besar itulah yang kita butuhkan di
saat krisis. Bukan orang-orang yang tampak besar tapi hanya melakukan kerja-kerja
kecil lalu menulisnya dalam autobiografinya. Para pahlawan bukan untuk
dikagumi. Tapi untuk diteladani.
Teruntuk orang-orang biasa, yang mencoba dengan tulus memahami makna-makna
itu, lalu secara diam-diam merakit kerja-kerja kecil menjadi sebuah gunung
karya. "Ya Allah, jadikanlah kerja kecil ini sebagai kendaraan yang akan
mengantarku menuju ridha dan surga-Mu."
Dimanakah Pahlawan Indonesia yang sedang sama-sama kita cari? Yang
dicari itu "bahkan sudah ada di sini. Mereka hanya belum memulai. Mereka
hanya perlu berjanji untuk merebut takdir kepahlawanan mereka."
Ayu Chintia Dewi
Resume buku "Mencari Pahlawan Indonesia"
Depok, 15 September 2013