Sabtu, 21 September 2013

Kesiapan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dalam Bidang Kurikulum 2013

   Seperti yang diketahui khalayak ramai bahwa kurikulum di dunia pendidikan akan berganti sesuai dengan bergantinya tahun ajaran/ tahun akademik. Hal ini tentu sangat menimbulkan pro dan kontra, dalam kurikulum ini lebih dipadatkan.
   Akan tetapi, dalam masalah kesiapan Departemen Pendidikan tentu tidak ada masalah sebab yang menjalankan kurikulum ini adalah siswa dan para guru yang perlu menyesuaikan dengan kurikulum baru ini. meskipun dalam keputusan ini terdapat fraksi yang tidak setuju, dan terdapat beberapa fraksi pula yang setuju akan tetapi memberikan persyaratan.

  Meskipun kurikulum 2013 dilaksanakan 15 Juli 2013 keputusan yang diambil 27 Mei lalu ini harus dijalani dengan penuh tanggungjawab oleh lembaga pendidikan guna mencetak penerus bangsa yang lebih baik lagi.



(Diah Ambarwulan_Pendidikan Fisika_UNJ_2013)

Pendidikan Moral Bangsa pada Kurikulum 2013

       Pembaruan kurikulum biasanya dijadikan alasan untuk memperbaiki sistem pengajaran. Setiap pergantian menteri dapat dipastikan pula akan terjadi perubahan kurikulum. Seperti halnya tahun 2013 ini, terjadi pembaruan kurikulum dari kurikulum tahun 2006.
   Pembaruan kurikulum tahun 2013 ini lebih menitikberatkan pada perilaku dan moral bangsa. Pramuka yang dahulu diandalkan untuk mendidik moral bangsa, sekarang kurang diminati. Oleh karena itu, pada kurikulum 2013 ini, pramuka sedang diupayakan untuk menjadi ekstrakulikuler wajib. Hal ini tentunya akan menimbulkan pro dan kontra.
 

(Desy Eka Adryana_Pendidikan Biologi_UNJ_2013)

Senin, 16 September 2013

Mencari Pahlawan Indonesia

Krisis adalah takdir semua bangsa. la tidak perlu disesali. Apalagi dikutuk. Kita hanya perlu meyakini sebuah kaidah, bahwa masalah kita bukan pada krisis itu. Bahwa ketika akhir-akhir ini krisis besar melanda negeri, "kita justru mengalami kelangkaan pahlawan". bahwa dengan demikian telah tampak "isyarat kematian sebuah bangsa".
Pahlawan yang didambakan bukan saja pahlawan yang membebaskan bangsa dari krisis besar atau pahlawan di medan peperangan gawat, tapi pahlawan dunia pemikiran, pendidikan, keilmuan, pebisnis, kesenian dan kebudayaan. Sejarah sesungguhnya "merupakan industri para pahlawan." Dalam "skala peradaban" setiap bangsa bergiliran "merebut piala kepahlawanan." Mereka selalu muncul di saat-saat sulit, atau sengaja (Allah) lahir (kan mereka) di tengah situasi yang sulit. Pahlawan sejati senantiasa pemberani sejati.

Keberanian itu fitrah tertanam pada diri seseorang, atau diperoleh melalui latihan. Keduanya ini berpijak kuat pada keyakinan dan cinta yang kuat terhadap prinsip dan jalan hidup, kepercayaan pada hari akhirat, dan kerinduan yang menderu-deru untuk bertemu Allah. Dengarlah nasihat Umar bin Khattab: "Ajarkanlah sastra kepada anakanakmu, karena itu dapat mengubah anak yang pengecut menjadi pemberani."
Pahlawan dari generasi sahabat punya daya cipta sarana materi di tiga wilayah: di medan perang, dalam percaturan politik dan di dunia bisnis. Pahlawan mukmin sejati tidak membuang energy mereka untuk memikirkan apakah ia akan ditempatkan dalam sejarah manusia, apakah ia akan ditempatkan dalam liang lahat Taman Pahlawan. Yang mereka pikirkan ialah bagaimana meraih posisi paling terhormat di sisi Allah SWT. Kata kunci mencapai ini adalah keikhlasan. Inilah yang membedakan mereka dengan pahlawan sekuler. Sama menderita masuk penjara, sama terbuai di tiang gantungan, tapi yang satu karena dunia fana, dan yang satu lagi karena Allah semata.
Pahlawan bukanlah orang suci dari langit yang diturunkan ke bumi untuk menyelesaikan persoalan manusia dengan mukjizat, secepat kilat untuk kemudian kembali ke langit. Pahlawan adalah orang biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, dalam sunyi yang panjang, sampai waktu mereka habis. Mereka juga melakukan kesalahan dan dosa. Mereka bukan malaikat. Mereka hanya manusia biasa yang berusaha memaksimalkan seluruh kemampuannya untuk memberikan yang terbaik bagi orang-orang di sekelilingnya. Mereka merakit kerja-kerja kecil jadi sebuah gunung: karya kepahlawanan adalah tabungan jiwa dalam masa yang lama. Orang-orang biasa yang melakukan kerja-kerja besar itulah yang kita butuhkan di saat krisis. Bukan orang-orang yang tampak besar tapi hanya melakukan kerja-kerja kecil lalu menulisnya dalam autobiografinya. Para pahlawan bukan untuk dikagumi. Tapi untuk diteladani.
Teruntuk orang-orang biasa, yang mencoba dengan tulus memahami makna-makna itu, lalu secara diam-diam merakit kerja-kerja kecil menjadi sebuah gunung karya. "Ya Allah, jadikanlah kerja kecil ini sebagai kendaraan yang akan mengantarku menuju ridha dan surga-Mu."
Dimanakah Pahlawan Indonesia yang sedang sama-sama kita cari? Yang dicari itu "bahkan sudah ada di sini. Mereka hanya belum memulai. Mereka hanya perlu berjanji untuk merebut takdir kepahlawanan mereka."

Ayu Chintia Dewi

Resume buku "Mencari Pahlawan Indonesia"
Depok, 15 September 2013