Akibat
globalisasi, semakin hari kita semakin merasa kejar-kejaran dengan banyaknya
teknologi baru yang muncul silih berganti. Tapi dari sekian banyaknya teknologi
yang mulai bermunculan, sadarkah kalian bahwa ternyata jarang sekali kita
temukan karya-karya anak negeri yang bisa diunggulkan di mata dunia? Lantas
kemana generasi-generasi muda Indonesia? Berdasarkan data World Bank pada 2004
disebutkan jumlah peneliti Indonesia sebanyak 207 peneliti per satu juta
penduduk. Angka itu jauh lebih kecil dibandingkan dengan negara-negara ASEAN
lainnya. Data tersebut cukup menggambarkan bahwa budaya meneliti di Indonesia masih
sangat rendah. Hal ini mengingatkan kita, bahwa Indonesia memiliki pekerjaan
rumah untuk memperbaiki dunia pendidikan di negeri ini. Potensi peneliti
Indonesia cukup tinggi. Jumlah peneliti perguruan tinggi berpendidikan magister
sebanyak 71.489 orang, berkualifikasi doktor 13.033 orang, dan guru besar 4.500
orang. Seharusnya ini bisa menjadi dorongan untuk meningkatkan kualitas sumber
daya manusia yang ada, khususnya dalam mengerjakan pekerjaan rumah tersebut. Di
lain pihak, banyak hal yang telah kita rasakan sekarang yang ternyata semuanya
berawal dari meneliti.
Tulisan
ini ditujukan untuk menginformasikan tentang pentingnya meneliti bagi
kelangsungan hidup manusia dan mengajak generasi bangsa untuk memulai budaya
meneliti karena kita sebagai motor penggerak peradaban, serta menjabarkan
dampak-dampak yang dihasilkan dari kegiatan meneliti. Kenapa harus meneliti?
Karena meneliti itu menyenangkan!
Penelitian dan
pengembangan eksperimental kerja formal yang dilakukan secara sistematis untuk
meningkatkan stok pengetahuan, termasuk pengetahuan tentang kemanusiaan, budaya
dan masyarakat, digunakan untuk membangun atau mengkonfirmasi fakta-fakta,
menegaskan hasil pekerjaan sebelumnya, memecahkan masalah baru atau yang sudah
ada, dukungan teorema,
atau mengembangkan teori baru.
Penelitian ilmiah bergantung
pada penerapan metode ilmiah, yang memanfaatkan rasa ingin tahu
. Penelitian ini memberikan informasi dan teori-teori untuk penjelasan dari alam
dan sifat dari dunia. Penelitian, kata ini berasal dari Perancis Tengah
"recherche",
yang berarti "untuk pergi mencari", istilah itu sendiri yang berasal
dari Prancis Lama
istilah "recerchier"
kata majemuk dari "re-"+"cerchier", atau "sercher ", yang berarti
'pencarian'. Menurut Martyn Shuttleworth, “Dalam arti luas, definisi penelitian
meliputi setiap pengumpulan data, informasi dan fakta-fakta untuk kemajuan
pengetahuan". Definisi lain dari penelitian diberikan oleh Creswell yang
menyatakan, "Penelitian adalah proses langkah-langkah yang digunakan untuk
mengumpulkan dan menganalisa informasi untuk meningkatkan pemahaman kita
tentang suatu topik atau masalah". Ini terdiri dari tiga langkah: Pose
pertanyaan, mengumpulkan data untuk menjawab pertanyaan, dan menyajikan jawaban
atas pertanyaan.
Ada
orang yang hanya bisa belajar dengan guru, disuapi ilmu dan didikte
habis-habisan. Ada yang cukup belajar dari katak yang melompat atau angin yang
berhembus pelan lalu memporak-porandakan seluruh kota. Dan ada yang cukup
belajar dari apel yang jatuh dari pohonnya. Ada guru yang banyak bicara tanpa
berbuat. Ada yang lebih pandai berbuat daripada berkata. Bahkan ada juga yang
memadukan kata dan perbuatan. Yang tak dapat belajar dari guru alam dan
dinamika lingkungannya, sangat berpotensi untuk belajar dari guru manusia. Yang
tidak bisa mengambil pelajaran dari perjalanan hidup orang lain, harus
mengambilnya dari pengalamannya sendiri, dan itu harus dibayar dengan sangat
mahal. Benar, manusia memerlukan guru manusia, tetapi apa yang bisa dilihatnya
diterik siang dibawah lampu ribuan watt, bila matanya ditutup rapat? . Sebuah
bangsa yang sudah "merdeka" 67 tahun, namun tak peduli bagaimana
menghemat cadangan energi, tak tahu bagaimana membuang sampah, ringan tangan
membakar hutan dan me-WC-kan sungai-sungai kota mereka, tentulah bukan bangsa
yang pandai mendidik diri. Disinilah peran kita sebagai pemuda sangat
dibutuhkan.
Pemuda,
yang dengan kecerdasannya menemukan hakikat kebenaran dibalik rahasia alam
semesta. Yang didirinya terhimpun segala potensi kebaikan. Yang dengan kekuatan
perjuangannya menghancurkan peradaban rendah untuk kemudian membangun hakikat
peradaan kemanusiaan. Pemuda, yang di pundaknya lah tertumpu berjuta harapan, di
dirinya lah terkumpul potensi keutamaan, di tangannya lah terletak penyelesaian
permasalahan ummat. di matanya sinar akan menguak kegelapan, di perjuangannya tergantung bangunan ketinggian peradaban kemanusiaan. Pemuda, raihlah ketinggian gapailah kemuliaan, temukan hakikat kebahagiaan , tegarkan diri menghadang badai, tinggalkan semua kepalsuan dan kesemuan lambungkan jiwa meninggi menembus batas birunya langit….
Sebagai sosok pemuda yang sangat
ditunggu-tunggu kedatangannya oleh negeri ini, sudah seyogyanya kita bisa
memberikan kontribusi terbaik kita bagi pemecahan masalah yang ada di negeri
ini. Tapi kita tidak akan pernah bisa memberikan kontribusi terbaik kita selama
kita belum memulai. Bagaimana cara memulainya? Dalam menyelesaikan suatu
permasalahan, langkah awal yang harus kita lakukan adalah dengan meneliti,
mengidentifikasi apa yang sebenarnya terjadi dan mengidentifikasi solusi
terbaik yang harus ditempuh untuk memberantas masalah tersebut. Coba kita
bertanya pada diri sendiri, bagaimana selama ini kita menghabiskan waktu kosong
kita? Kemana kita mengisi waktu kosong kita? Dan apa yang kita hasilkan dari
waktu kosong kita itu? Tidak dapat dipungkiri lagi, remaja jaman sekarang akan
lebih senang berlama-lama dipusat perbelanjaan atau pusat hiburan dibandingkan
dengan berlama-lama di perpustakaan atau di laboratorium. Remaja sekarang akan
lebih betah berlama-lama dengan handphone-handphone mereka dibandingkan dengan
buku-buku pelajaran mereka. Hal ini disebabkan karena banyak remaja yang masih
berpikiran bahwa meneliti itu adalah sesuatu hal yang sulit, hanya orang-orang
jenius yang bisa meneliti, banyak waktu yang harus dikorbankan untuk belajar,
tidak punya waktu untuk bermain, dan alasan-alasan lainnya. Padahal coba kita
lihat sekarang, bahkan seorang anak kecil pun sudah mulai bisa meneliti.
Meneliti itu bukan berarti harus berdiam diri di laboratorium semalaman suntuk,
tapi kita bisa mulai meneliti dari hal-hal kecil yang kita jumpai di sekitar
kita. Meneliti itu bukan hanya dilakukan dibidang science tapi dalam bidang
kemasyarakatan pun meneliti tetap bisa dilakukan. Sayangnya, kebanyakan remaja
di negeri ini sudah anti oleh hal-hal yang berbau penelitian, padahal
penelitian itu tidak sesulit yang dibayangkan, justru penelitian akan menjadi
sesuatu yang sangat menyenangkan.
Apa
penilaian kita terhadap arti penting keilmiahan Newton? Apabila kita buka-buka
indeks ensiklopedia ilmu pengetahuan, kita akan jumpai ihwal menyangkut Newton
beserta hukum-hukum dan penemuan-penemuannya dua atau tiga kali lebih banyak
jumlahnya dibanding ihwal ilmuwan yang manapun juga. Kata cendikiawan besar
Leibniz yang sama sekali tidak dekat dengan Newton bahkan pernah terlibat dalam
suatu pertengkaran sengit: "Dari semua hal yang menyangkut matematika dari
mulai dunia berkembang hingga adanya Newton, orang itulah yang memberikan
sumbangan terbaik." Juga pujian diberikan oleh sarjana besar Perancis, Laplace:
"Buku Principia Newton berada jauh di atas semua produk manusia genius
yang ada di dunia." Dan Langrange sering menyatakan bahwa Newton adalah
genius terbesar yang pernah hidup. Sedangkan Ernst Mach dalam tulisannya di
tahun 1901 berkata, "Semua masalah matematika yang sudah terpecahkan sejak
masa hidupnya merupakan dasar perkembangan mekanika berdasar atas hukum-hukum
Newton." Ini mungkin merupakan penemuan besar Newton yang paling ruwet:
dia menemukan wadah pemisahan antara fakta dan hukum, mampu melukiskan beberapa
keajaiban namun tidak banyak menolong untuk melakukan dugaan-dugaan; dia
mewariskan kepada kita rangkaian kesatuan hukum-hukum yang mampu dipergunakan
buat permasalahan fisika dalam ruang lingkup rahasia yang teramat luas dan
mengandung kemungkinan untuk melakukan dugaan-dugaan yang tepat.
Coba kita bayangkan seandainya
orang-orang terdahulu juga malas untuk meneliti, apa jadinya dunia sekarang
ini? Jika Einstein tidak meneliti kenapa apel selalu jatuh kebawah maka kita
tidak akan pernah tahu kalau di dunia ini berlaku hukum grafitasi. Jika Thomas
Alfa Edison tidak pernah meneliti cara kerja lampu dan mengaplikasikannya,
mungkin dunia tidak akan seterang seperti sekarang ini. Jika Martin Cooper
tidak pernah meneliti dan menemukan teknologi handphone, maka sampai hari ini
kita tidak akan pernah merasakan kecanggihan alat yang selalu menjadi teman
setia anda, memudahkan segala kegiatan anda terutama dalam hal komunikasi. Jika
J.C.R Licklider tidak
pernah malakukan penelitian dan menemukan internet, maka dapat dipastikan dunia
tidak akan seramai ini, kalian tidak akan merasakan jejaring social yang
sedanga marak sekarang. Tidak ada acebook, Friendster, skye, twiter, dan
jejaring social lainnya. Orang dulu mungkin menganggap adalah hal yang mustahil
dua orang yang terpisah jarak dan waktu dapat berkomunikasi langsung, tapi kini
hal itu sudah menjadi hal yang biasa. Itu semua berawal
dari meneliti. Karena meneliti bisa menciptakan sesuatu yang mustahil menjadi
ada. Karena meneliti, maka semua yang tadinya tidak ada menjadi ada.
Meneliti
itu menyenangkan, mengambil masalah dan mencoba untuk menemukan semua seluk
beluk tentang hal itu dan bagaimana hal itu relevan dengan serangkaian tertentu
fakta. Meneliti itu menyenangkan, menjawab pertanyaan yang sering kali hinggap
dan akhirnya menciptakan sebuah kepuasan. Meneliti itu menyenangkan, bahkan
dampaknya pun sangat kita rasakan, mulai dari membuka mata sampai mata ini
terpejam kembali. Mungkin aneh, tapi saya benar-benar berpikir bahwa hal itu
menyenangkan. Ditambah lagi, saya dapat
belajar lebih banyak tentang
topik dan dapat menyimpan informasi untuk referensi di masa mendatang. Itu
benar-benar membuat saya merasa seperti saya menambahkan nilai untuk kasus dan
mendidik diri untuk masa depan. Karena
hari terbaik tidak ketika Anda menemukan apa yang Anda cari, tetapi ketika Anda
menemukan sesuatu yang sama sekali tak terduga. Tidak ada salahnya untuk dari
sekarang kita mencoba melihat ke kanan-kiri kita, mencoba lebih “melek”
lingkungan, perduli dengan permasalahan bangsa. Coba mengkritisi
masalah-masalah yang terjadi, menjadi seorang inisiator, dan mengembangkan
kreatifitas dalam menciptakan ide-ide yang briliant, yang nantinya dapat
membantu memecahkan masalah bangsa, serta memberikan kontribusi terbaik kita.
Lagi-lagi, itu semua karena meneliti itu menyenangkan. “Ruang ada karena
dipikirkan ada”, tidak mustahil suatu saat nanti nama kita yang akan
dielu-elukan oleh dunia karena penemuan yang kita temukan, tidak mustahil suatu
hari nanti kita akan dikenang sebagai orang yang berpengaruh di dunia. Tidak
ada yang mustahil selama kita mau untuk memulai segalanya. Selamat meneliti,
selamat memasuki dunia baru yang penuh dengan keajaiban-keajaiban rahasia alam
semesta yang belum pernah terungkap.
Ayu
Chintia Dewi
Pendidikan fisika Reguler 2012