Senin, 27 Januari 2014

Tentang Al dan Si Botak


Beberapa minggu ini, rumah sakit seolah sudah begitu akrab dalam kehidupanku. Ini semua karna ibu harus masuk rumah sakit, yang juga berarti aku harus betah berlama-lama dirumah sakit untuk sekedar menunggu beliau yang sedang terbaring lemah. Awalnya aku pikir, cukup membosankan untuk menghabiskan waktu disana. Tapi apa boleh buat, keadaan terus memaksaku untuk menyukai tempat itu. Namun dibalik ketidaksukaanku terhadap rumah sakit, tak dipungkiri banyak pelajaran yang aku dapat dari sana.
Dari rumah sakit aku belajar untuk cepat akrab dengan orang lain. Dari sana juga aku diajarkan tentang kesabaran. Banyak kekaguman yang muncul dari tempat itu. Kagum pada perawat-perawat yang selalu sabar menangani pasien-pasien disana, termasuk dalam hal membersihkan kotoran-kotoran pasien-pasien tersebut. Kagum pada bahasa mereka yang selalu lembut ketika berbicara dengan pasien ataupun si penunggu pasien. Ada kekaguman yang besar juga ketika dihadapanku ada seorang perawat pria, bersih dan wangi. Mungkin itu tuntutan kerjaan mereka. Terkadang ketika sedang menghayal aku berbicara dengan diriku sendiri bahwa “mungkin nanti gue bakal nyari calon suami yang profesinya perawat, dia tau banget gimana caranya merawat orang. Dan yang pasti perawat itu orangnya sabar, mungkin dia bisa bersabar dengan segala kealayan yang ada didiri gue”. Monolog ini memang sedikit gila, jadi harap dimaklumi yaa -___-
Suatu ketika ada seorang perawat yang masuk ke kamar ibu, wanginya semerbak. Entah berapa banyak parfum yang dia semprotkan kebadannya. Namun, ada yang special. Bukan karna apa yang ada di perawat itu, namun karena dia seperti bayangan. Bayangan seseorang yang aku kenal. Potongan tubuhnya persis mirip dengan seseorang itu. Saking miripnya terkadang aku harus menahan senyum dibalik masker yang aku kenakan. Untung saat itu pake masker. Entah apa yang akan terjadi, jika perawat tadi melihat ekspresiku waktu itu. Entah kenapa saat-saat itu aku bisa tenggelam di khayalan gilaku (lagi) -__-“. Namun, si perawat tadi mengajarkan aku untuk ngga berkhayal terlalu gila. Dan mengingatkan aku untuk bisa mengontrol diri atas segala ketidakpastian.
Dan tentang Al, yang belum sempat tersapa. Terima kasih untuk hiburannya beberapa hari ini. Semoga adikmu lekas sembuh dan dapat meneruskan pendidikannya lagi J. Semoga lebih bisa bersabar menghadapi orang sakit. Aku juga sempat merasakan saat-saat lelah dan perasaan ingin marah. Mungkin itu wajar untuk kita yang bernasib menjadi penunggu pasien.. :D    
          Kenapa yaa, disaat semua sudah menjadi sangat akrab, justru Allah memberikan kesempatan kepada ibu untuk pulang? Aku bersyukur keadaan sebentar lagi akan kembali normal. Namun ada sedikit syahdu yang muncul karena tak sempat mengucapkan selamat tinggal pada kalian. Tapi hidup akan terus berjalan. Kalian akan menjadi sepenggal keluarga yang memakna bagi hidupku untuk saat ini dan disaat yan akan datang. Terima kasih telah membuat semuanya jauh lebih menyenangkan. Semangat untuk kalian semua!! Pasti akan ada rindu, semoga suatu saat nanti bisa bertemu kembali ya, dalam suasana yang lebih baik tentunya..
J


Senin, 27 Januari 2014, 21.15

Minggu, 19 Januari 2014

Tentang Mencari Pasangan

Setiap orang pasti ingin merasakan yang namanya pernikahan. Akankah kita termasuk orang-orang yang beruntung dan akan dipertemukan oleh seseorang yang benar-benar mengasihi kita? Akankah kita ditakdirkan untuk hidup bersama dengan orang yang akan menerima kita apa adanya, dalam suka maupun duka?
Akhir-akhir ini hal-hal tadi terus terngiang dipikiranku. Bukan karena aku ingin menyegerakan untuk menikah, tapi ingin lebih mengkritisi saja bagaimana dunia pernikahan yang sebenarnya. Sampai pada akhirnya aku dapat menyimpulkan semua tentangnya.
Agak miris mendengar semakin maraknya kasus perceraian di dunia selebritis. Itu baru di dunia selebritis looh yang terekspose media, bagaimana dengan yang belum sempat terekspose? Bisa jadi jumlahnya sama atau mungkin lebih banyak. Dari dulu hingga hari ini, aku selalu menganggap sebuah pernikahan adalah sesuatu yang sakral. Suci. Murni. Dan tidak boleh ternodai. Bukankah menikah adalah jalan menyempurnakan sebagian agama? Lantas mengapa saat ini masih ada saja orang-orang yang menganggap pernikahan hanyalah barang mainan semata, yang apabila sudah bosan maka bisa dibuang begitu saja? Banyak orang mengumbar kata cinta. Menghabiskan waktu untuk menyanjung keberadaan si cinta. Tapi apakah pernikahan bukan bagian dari cinta? Justru seharusnya itulah tingkatan cinta tertinggi antar dua insan manusia.
Untuk kita yang sedang dalam tahap memantaskan diri. Mungkin ada baiknya kita mulai mempelajari bagaimana bahasa cinta yang disertai dengan ketulusan. Untuk apa? Agar suatu saat nanti, ketika tiba saatnya kita untuk memilih, maka yang akan berbicara adalah hati. Ini bukan anjuran bahwa kita harus mengumbar cinta. Tapi ini adalah pelajaran, bahwa bahasa hati akan benar-benar kita dengar ketika hubungan kita dengan sang Maha Cinta begitu intim. Kuncinya adalah mendekatkan diri kepadaNya. Jadilah sebaik-baik makhluk dihadapanNya. Kelak, ketika Dia mulai jatuh hati padamu, tak akan ada satu pintamu yang tertunda, semua pasti akan terlaksana. Semua, bukan hanya masalah cinta tapi semua hal yang menyangkut hajat hidup kita. Karena sesungguhnya, cinta yang hakiki adalah ketika sepasang makhluk bertemu karena Allah, saling mencintai karena Allah, dan dipersatukan atas ijin dan ridho dari Allah. Luar biasa bukan? Semoga setiap kita kelak akan mendapatkan seseorang yang akan bisa menerima dan membimbing kita untuk kemudian bersama berjuang menggapai cinta dan syurgaNya.. :))

Senin, 13 Januari 2014

Tentang Tipu-Menipu Diri

Saya tertarik dengan sebuah kata yang dibahas dalam salah satu bagian di buku "Soe Hok Gie -Catatan Seorang Demonstran-". Tentang tipu-menipu diri. Tiba-tiba tersadar, banyak hal yang terkadang secara sadar maupun tidak, memaksa kita untuk melakukan tipuan terhadap diri sendiri. Aku pun kerap kali melakukan hal itu. Ketika dirasa hati ingin sekali mengadu, mencari pundak dan bahu untuk sekedar meratapi kesalahan, tapi yang terjadi aku selalu saja berusaha untuk kuat, be a strong women, menahan tangis dan berusaha tertawa di depan banyak orang. Naif memang. Bahkan kepada diri sendiri pun terkadang kita tidak mau jujur. Mungkin karena terlalu banyak kenyataan yang hadir justru tidak sesuai dengan harapan. Memang sebagian besar hidup kita terwarnai oleh harapan-harapan dari diri sendiri, atau mungkin harapan dari orang lain. Tapi terkadang harapan yang kita dapat dari luar terlalu berlebihan. Yang terjadi justru seringkali kita merasa tercekik karena takut mengecewakan. Tapi tak jarang harapan itu juga yang justru membuat kita semakin berdaya guna.
Mungkin benar, dunia ini memang aneh. Dunia aneh nan lucu. Dunia kotor tapi indah. Mungkin itu semua yang membuat aku dan manusia-manusia lain jatuh cinta pada kehidupan ini. Dan aku akan mengisinya, merangkai mimpi-mimpi dan membius diri dalam segala hal demi dapat mewujudkannya, Semoga suatu saat nanti semua akan menjadi lebih lega..

Minggu, 17 November 2013

Minggu, 05 Januari 2014

Yaah Langitnya Runtuh

Sore itu, sedari masih berada di Universitas Indonesia tetiba suasana berubah menjadi melankolis. Aku pikir itu karena kekecewaan dan kekhawatiran akibat Harun, "adik"ku dari Cibuyutan, tak ikut ke Jakarta. Tapi ternyata itu adalah sebuah firasat buruk bahwa sebentar lagi langit akan runtuh.
Memilih untuk lekas pergi mungkin keputusan yang sulit. Haah, aku masih ingin bersama mereka. Bersama dengan adik-adik dari Cibuyutan. Ingin tetap merangkai mimpi bersama mereka. Tapi apa daya, ada agenda lain disana. Agenda yang menandakan sebentar lagi langit akan runtuh.
Saat itu terbentuk sebuah lingkaran. Lingkaran cinta, mudah-mudahan. Lingkaran yang membicarakan keberlangsungan sebuah "peradaban". Masih datar. Mungkin karena aku terlalu asik makan. Tapi sungguh jawaban dari teman-teman atas sebuah pertanyaan membuat seketika otakmu harus berproduksi semakin cepat.
Pertanyaannya mungkin simple, tapi jawabannya ngga sesimple yang dibayangkan.
"Bagaimana kalau kamu jadi Korwat? Kalo ngga jadi korwat kamu mau masuk bidang apa? Apa yang bakal kamu lakuin buat SALAM?
Apa itu korwat? Korwat bukan sejenis makanan, bukan juga minuman atau cemilan. Korwat itu adalah singkatan dari koordinator akhwat. Tanggungjawab? jangan ditanya. Udah pasti tanggung jawabnya besar, apalagi ini berhubungan sama agama..
Ada salah satu perkataan teman yang aku ingat, "Aku ngga mau kak jadi korwat, gunung aja ngga mampu megang amanah langit, apalagi saya". Seketika aku mengiyakan kata-kata tadi. Terlebih atas suatu hal yang selalu aku hidari. Jabatan. Aku paling anti sama jabatan. Kalau bisa pergi, mungkin aku memilih pergi. Tapii, aku ingat perbincangan seorang kakak beberapa hari lalu,
kak : "Cuma Allah yang tahu, siapa yang bakal jadi korwat selanjutnya. Bisa jadi kamu"
sy   : "Ngga kak makasih, saya ngga mau. Nanti saya kabur kalo kayak gitu"
kak : "Yaudah aku si ngga masalah. Kan kamu langsung tanggugjawabnya sama Allah"
Saat itu aku tak bisa berkutik apa-apa. Memang ngga ada manusia yang bisa berkutik dihadapan Tuhannya. Apalagi ini tentang tanggung jawab. Tanggung jawab yang mesti diperlakukan dengan hati-hati, karena bisa jadi malah mengantarkan ketempat manusia-manusia akan disiksa nanti. Ketika tiba giliranku untuk menjawab pertanyaan tadi, yang keluar pertama bukan kata-kata, melainkan air mata. Entah, aku sendiri tak paham kenapa saat itu air mata yang malah keluar. Biar seru, aku bilang. Memang alasan yang tidak masuk akal. Dan Untuk beberapa waktu aku cuma bisa bilang "ngga tau", karena memang aku ngga tau apa yang akan aku lakukan untuk satu tahun ke depan. Yang aku tau, aku mau tetap berkontribusi. Tetap berkontribusi dengan bebas, tanpa jabatan dan titel yang seolah justru memberatkan. Agak minder memang, ketika jawaban dari teman-teman yang lain luar biasa, bahkan tanpa terbata. Sepertinya, sikapku yang seperti itu yang mengakibatkan langit semakin cepat akan runtuh.
3 orang senior keluar lingkaran untuk berbincang tentang "nasib si korwat", sedangkan kami sedang diberikan wejangan oleh seorang wanita cantik yang bahkan wajahnya baru pertama kali aku lihat. Kami diceritakan tentang sejarah dakwah Rasulullah, tentang sebuah pengorbanan dan pengabdian. Luar biasa isinya. 3 orang tadi sudah kembali ke tempat duduknya. Oh tidak, satu menit lagi langit runtuh. Aku harus mengungsi kemana????
Prosesnya ngga terlalu lama. Langit benar-benar telah runtuh ketika ada sebuah suara, "innalillahi wa innailaihi rojiun, korwat SALAM selanjutnya akan dipegang oleh...........". Sudah bisa ditebak jawabannya siapa. Aku memilih untuk memalingkan muka disaat teman-teman yang lain seketika mengarahkan pandangannya ke arahku semua. Semuanya mendekat, merangkul, menepuk pundak, dan memberikan sejuta kekuatan. Yaah, langitnya benar-benar runtuh. Rasanya aku ngga mau nerima. Aku sudah berkali-kali bilang "Tidak". Tapii,
"Amanah itu ngga pernah salah pundak achy, mungkin sekarang yang terbaik menurut Allah memang achy. Temen-temen bakal ngebantuin kok. Kakak-kakak 2008-2009 juga masih ada kok, ngga akan ada yang ninggalin", 
"achy tau ngga, di jaman nabi, ngga ada satupun sahabat yang meminta jabatan. karena memang ngga ada yang mau mendapatkan sebuah jabatan dengan konsekuensi tanggung jawab yang besar. Bisa jadi ini cara Allah untuk membuat achy jadi lebih baik lagi",
"achy, ngga harus jadi kayak ka Ria kok. Ngga ada juga yang minta achy buat berubah jadi kayak kak Ria. Tetep jadi diri sendiri aja. Achy bisa.. Bismillah yaa chy"
Setiap kata-kata tadi membuat air mata ku tetap mengalir. Entah ini apa namanya. Untuk seorang selenge'an, untuk seorang yang masih suka berbuat seenaknya, mungkin jabatan ini kurang layak. Rekan-rekan, aku bukanlah orang bisa care sama orang lain, aku acuh, ngga peduli, aku pelupa, aku sering labil dalam hal emosi. Satu tahun ke depan, semoga kalian selalu bisa membersamaiku mengarungi jalan juang ini. Kuatkan ketika aku mulai melemah, Ingatkan ketika aku mulai lupa, Sabarkan ketika aku mulai emosi. Semoga satu tahun yang akan datang kita semua bisa mengantarkan keadaan menjadi lebih baik. Mungkin aku tidak perlu khawatir, karena ada kalian, manusia-manusia hebat, di sampingku. Mungkin bersama kehebatan kalian, langit yang runtuh itu bisa kita perbaiki lagi, dikembalikan ke tempatnya semula dengan ditambah sedikit hiasan pelangi. Semoga

5 Januari 2014

Rabu, 01 Januari 2014

Tentang HandPhone dan Al-Quran


وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا
Dan Rasul (Muhammad) berkata. “ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Quran ini diabaikan”
Tentang kenyataan bahwasannya hari ini banyak orang yang secara sadar ataupun tidak justru bergerak menjauhi kibat sucinya, Al-Quran. Mungkin ini dampak dari perkembangan zaman. Mungkin ada yang lebih berharga dari Al-Quran yang seharusnya dijadikan pegangan hidup manusia. Barangkali sekarang justru telah berubah. Bukan lagi Al-Quran yang dijadikan pegangan hidup, tapi Handphone-lah yang menjadi pegangan hidup.

Untuk setiap orang yang belum sadar (atau pura-pura ngga sadar?) seringkali waktu kita banyak terbuang hanya untuk ngutak-ngatik layar handphone. Kepoin akun media sosial orang lain. Sepik-sepik sama orang yang padahal dia ngga ngerespon pembicaraan kita di WA, Line, bbm dll. Atau mungkin sekedar liat-liat foto orang, di zoom in-zoom out. Setidaknya itu semua fenomena yang seringkali aku temui ketika aku sedang dalam perjalanan, baik di angkutan kota ataupun kereta. Entah apa yang dilakukan, aku ngga ngerti. Mungkin sekedar mengisi waktu kosong diperjalanan, “dari pada bengong” begitu kata mereka. Sayang sekali jika waktu kita hanya dipergunakan untuk hal-hal sepele kayak tadi, non sense. Sedangkan pada kenyataanya ngga ada satu detikpun yang bisa diputar ulang. Masih banyak buku-buku yang layak untuk dibaca. Masih banyak untaian kata dalam Al-Quran yang mungkin belum pernah kita baca selama kita hidup. Lantas, akankah kita menunggu waktu-waktu berharga kita terlewati dahulu baru kemudian menyesali semua keteledoran kita hari ini??