Minggu, 05 Januari 2014

Yaah Langitnya Runtuh

Sore itu, sedari masih berada di Universitas Indonesia tetiba suasana berubah menjadi melankolis. Aku pikir itu karena kekecewaan dan kekhawatiran akibat Harun, "adik"ku dari Cibuyutan, tak ikut ke Jakarta. Tapi ternyata itu adalah sebuah firasat buruk bahwa sebentar lagi langit akan runtuh.
Memilih untuk lekas pergi mungkin keputusan yang sulit. Haah, aku masih ingin bersama mereka. Bersama dengan adik-adik dari Cibuyutan. Ingin tetap merangkai mimpi bersama mereka. Tapi apa daya, ada agenda lain disana. Agenda yang menandakan sebentar lagi langit akan runtuh.
Saat itu terbentuk sebuah lingkaran. Lingkaran cinta, mudah-mudahan. Lingkaran yang membicarakan keberlangsungan sebuah "peradaban". Masih datar. Mungkin karena aku terlalu asik makan. Tapi sungguh jawaban dari teman-teman atas sebuah pertanyaan membuat seketika otakmu harus berproduksi semakin cepat.
Pertanyaannya mungkin simple, tapi jawabannya ngga sesimple yang dibayangkan.
"Bagaimana kalau kamu jadi Korwat? Kalo ngga jadi korwat kamu mau masuk bidang apa? Apa yang bakal kamu lakuin buat SALAM?
Apa itu korwat? Korwat bukan sejenis makanan, bukan juga minuman atau cemilan. Korwat itu adalah singkatan dari koordinator akhwat. Tanggungjawab? jangan ditanya. Udah pasti tanggung jawabnya besar, apalagi ini berhubungan sama agama..
Ada salah satu perkataan teman yang aku ingat, "Aku ngga mau kak jadi korwat, gunung aja ngga mampu megang amanah langit, apalagi saya". Seketika aku mengiyakan kata-kata tadi. Terlebih atas suatu hal yang selalu aku hidari. Jabatan. Aku paling anti sama jabatan. Kalau bisa pergi, mungkin aku memilih pergi. Tapii, aku ingat perbincangan seorang kakak beberapa hari lalu,
kak : "Cuma Allah yang tahu, siapa yang bakal jadi korwat selanjutnya. Bisa jadi kamu"
sy   : "Ngga kak makasih, saya ngga mau. Nanti saya kabur kalo kayak gitu"
kak : "Yaudah aku si ngga masalah. Kan kamu langsung tanggugjawabnya sama Allah"
Saat itu aku tak bisa berkutik apa-apa. Memang ngga ada manusia yang bisa berkutik dihadapan Tuhannya. Apalagi ini tentang tanggung jawab. Tanggung jawab yang mesti diperlakukan dengan hati-hati, karena bisa jadi malah mengantarkan ketempat manusia-manusia akan disiksa nanti. Ketika tiba giliranku untuk menjawab pertanyaan tadi, yang keluar pertama bukan kata-kata, melainkan air mata. Entah, aku sendiri tak paham kenapa saat itu air mata yang malah keluar. Biar seru, aku bilang. Memang alasan yang tidak masuk akal. Dan Untuk beberapa waktu aku cuma bisa bilang "ngga tau", karena memang aku ngga tau apa yang akan aku lakukan untuk satu tahun ke depan. Yang aku tau, aku mau tetap berkontribusi. Tetap berkontribusi dengan bebas, tanpa jabatan dan titel yang seolah justru memberatkan. Agak minder memang, ketika jawaban dari teman-teman yang lain luar biasa, bahkan tanpa terbata. Sepertinya, sikapku yang seperti itu yang mengakibatkan langit semakin cepat akan runtuh.
3 orang senior keluar lingkaran untuk berbincang tentang "nasib si korwat", sedangkan kami sedang diberikan wejangan oleh seorang wanita cantik yang bahkan wajahnya baru pertama kali aku lihat. Kami diceritakan tentang sejarah dakwah Rasulullah, tentang sebuah pengorbanan dan pengabdian. Luar biasa isinya. 3 orang tadi sudah kembali ke tempat duduknya. Oh tidak, satu menit lagi langit runtuh. Aku harus mengungsi kemana????
Prosesnya ngga terlalu lama. Langit benar-benar telah runtuh ketika ada sebuah suara, "innalillahi wa innailaihi rojiun, korwat SALAM selanjutnya akan dipegang oleh...........". Sudah bisa ditebak jawabannya siapa. Aku memilih untuk memalingkan muka disaat teman-teman yang lain seketika mengarahkan pandangannya ke arahku semua. Semuanya mendekat, merangkul, menepuk pundak, dan memberikan sejuta kekuatan. Yaah, langitnya benar-benar runtuh. Rasanya aku ngga mau nerima. Aku sudah berkali-kali bilang "Tidak". Tapii,
"Amanah itu ngga pernah salah pundak achy, mungkin sekarang yang terbaik menurut Allah memang achy. Temen-temen bakal ngebantuin kok. Kakak-kakak 2008-2009 juga masih ada kok, ngga akan ada yang ninggalin", 
"achy tau ngga, di jaman nabi, ngga ada satupun sahabat yang meminta jabatan. karena memang ngga ada yang mau mendapatkan sebuah jabatan dengan konsekuensi tanggung jawab yang besar. Bisa jadi ini cara Allah untuk membuat achy jadi lebih baik lagi",
"achy, ngga harus jadi kayak ka Ria kok. Ngga ada juga yang minta achy buat berubah jadi kayak kak Ria. Tetep jadi diri sendiri aja. Achy bisa.. Bismillah yaa chy"
Setiap kata-kata tadi membuat air mata ku tetap mengalir. Entah ini apa namanya. Untuk seorang selenge'an, untuk seorang yang masih suka berbuat seenaknya, mungkin jabatan ini kurang layak. Rekan-rekan, aku bukanlah orang bisa care sama orang lain, aku acuh, ngga peduli, aku pelupa, aku sering labil dalam hal emosi. Satu tahun ke depan, semoga kalian selalu bisa membersamaiku mengarungi jalan juang ini. Kuatkan ketika aku mulai melemah, Ingatkan ketika aku mulai lupa, Sabarkan ketika aku mulai emosi. Semoga satu tahun yang akan datang kita semua bisa mengantarkan keadaan menjadi lebih baik. Mungkin aku tidak perlu khawatir, karena ada kalian, manusia-manusia hebat, di sampingku. Mungkin bersama kehebatan kalian, langit yang runtuh itu bisa kita perbaiki lagi, dikembalikan ke tempatnya semula dengan ditambah sedikit hiasan pelangi. Semoga

5 Januari 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar