Ini kisah
tentang suara hati seorang ibu akibat keTIDAKWARASan anaknya
Siang itu begitu kelam bagi seorang
ibu yang hati nya hancur-sehancurnya setelah menerima surat panggilan dari
sekolah anak kesayangannya. Surat panggilan karena anaknya sudah 5 hari tidak
masuk sekolah, padahal setiap hari si ibu melihat bahwa sang anak selalu
berangkat ke sekolah walau memang ada sedikit kejanggalan.. yakni si anak
selalu berangkat dari rumah jam 7 pagi, sedangkan pada umumnya bel sekolah
sudah berbunyi pada jam segitu. Memang jarak rumah dengan sekolah tidak begitu
jauh, tapi apa iya bisa sampai di sekolah kalo baru berangkat dari rumah jam
segitu ? selain karena alfa si anak yang tidak wajar, ada satu alasan lagi si
ibu di panggil oleh pihak sekolah, yaitu tugas remedial anaknya belum ada yang
di kumpulkan satupun.. tambah hancurlah hati si ibu karena beliau memang sempat
melihat hasil ulangan sang anak, SATU sahabat.. nilainya SATU !! sangat
memalukan bukan? Untuk pelajaran PKN
yang tidak terlalu susah, hanya angka segitu yang didapat.. miris hati sang
ibu.. beliau pun menyadari kalau selama ini anaknya tidak pernah memegang buku
pelajaran sedikit pun ketika dirumah, mengerjakan PR pun ngga pernah! Anak
macam apa itu.. ckck
Dengan
langkah agak dipaksakan dan surat panggilan yang masih di tangan, sang ibu
bergegas mengambil air wudhu dan menghadap pada Sang Empunya jiwa. Saat itu
memang masih waktu Dhuha, dan si ibu memutuskan untuk shalat Dhuha 2 rakaat.
Setelah menyelesaikan salam terakhirnya, air mata mengalir deras dari pelupuk
mata si ibu, airmata yang sejak tadi berusaha ia tahan agar tidak mengganggu ke
khusyu’an shalatnya.. dalam tangis itu si
ibu mengadu pada Tuhan, dengan suara terputus-putus bercampur kepedihan.
“oh Tuhan, maafkan hamba karena
tidak becus mengurus anak yang telah belasan tahun Kau titipkan pada hamba,
maafkan hamba yaa Rabb.”
Berkali-kali
kalimat itu terucap dari mulutnya. Sang ibu terisak dan tak kuasa untuk
mengatakan sepatah katapun lagi. Suara pintu terbuka, ternyata sang anak yang
datang. sang ibu segera menghampiri sang anak dan berhambur memeluknya.
“nak,
maafkan ibu yaa karena selama ini belum bisa ngasih kamu kehidupan yang layak.
Maafkan, karena ibumu ini hanya seorang pembantu yang gajinya tidak seberapa
dan tidak bisa memberikan kamu uang jajan seperti teman-temanmu yang lain.
Maafkan karena semua kesalahan ibu, sekarang kamu menjadi anak yang seperti
ini.
Sang
ibu menatap wajah anaknya lekat-lekat.
“nak, ibu tahu
kamu malu punya ibu seperti ibumu ini. Ibu tau kamu selalu menghindar jalan
berdampingan dengan ibu ketika ibu datang ke sekolahmu. Maaf yaa nak, ibu mu
hanya seorang yang tidak berpendidikan yang bisa nya Cuma bikin malu anaknya..
tapi nak, ibu sungguh ingin melihat kau sukses dan bisa sekolah
setinggi-tingginya, ibu sungguh ingin mengusahakan biaya pendidikan yang
semakin hari semakin mencekik, ibu tidak ingin kau menjadi pembantu, nak! Ibu
tak ingin kau menjadi manusia hina seperti ibumu ini. Ibu sangat ingin
melihatmu sukses dan tidak merasakan setiap beban dan hinaan yang ibu alami
selama ini.. kalau bukan karena memperjuangkan hidupmu, pendidikanmu, dan masa
depanmu, ibu tidak akan memaksakan diri menjadi pembantu, pekerjaan yang sangat
melelahkan bagi orang tua seusia ku, tapi melihat senyummu membuat aku selalu
bersemangat, demi kamu nak, semua demi masa depan mu.. !
terilhami dari
kehidupan yang edan, yang semakin hari semakin bertambah edan, di zaman edan
seperti sekarang ini. Semoga kita TIDAK termasuk orang edan yang hidup di
antara orang-orang edan..
(22 april 2012)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar