Konon
sorot mata wanita yang ada dihadapanku meyiratkan sebuah kesedihan. Tidak
seperti wanita normal pada umumya, tapi tak pantas juga dibilang wanita
siluman. Perawakannya kekar walau didalamnya mungkin terdapat jiwa yang lembut,
mungkin itu juga yang membuat sosok ini memilih jalan hidupnya menjadi seorang
waria.
Agak
aneh angkutan kota yang aku naiki saat itu, didalamnya ada 4 orang wanita
dengan penampilan dua di antaranya yang seperti seorang pria, dan yang lainnya
feminim. Tidak terlalu menjadi masalah bagiku ketika seorang wanita memutuskan
untuk berpenampilan tomboy. Tapi ada hal yang cukup menjadi tamparan bagiku.
Sikap mereka, perlakuan antara dua orang tomboy dengan dua wanita feminim itu
layaknya sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara. Oh Tuhan.. apa dunia ini
sudah sebegitu parahnya sampai-sampai realita yang ada di depanku seperti kisah
yang pernah aku baca dan diulang beberapa kali dalam Al-Quran. Yup.. kisah nabi
Luth dengan kaumnya yang menyukai sesama jenis. Sungguh durjana dunia sekarang,
semoga Engkau memaafkan orang-orang itu dan tidak menurunkan azab seperti apa
yang Kau turunkan pada kaum terdahulu.
Beberapa
saat aku hiraukan kelakuan 4 orang edan itu dan mulai menyibukkan diri dengan
handphone yang ada di genggamanku. Sampai akhirnya ada sesosok makhluk yang
naik dan duduk tepat dihadapanku. Aku lihat sorot mata mengejek dari salah satu
wanita tomboy itu kepada sosok yang ada dihadapan ku. Hingga akhirnya sosok itu
bersuara dan terjadilah perbincangan antara sosok itu dan 4 wanita edan,
pernbincangan yang agak menyeramkan buatku.
“apa
liat-liat ? sama banci aja takut !”
“wess,
nyantai.. piss piss..” ujar wanita tomboy sambil membentuk jari tangan seperti
V
“lesbi
aja takut sama banci !”
“.....“
tidak ada sepatah katapun yang keluar dari wanita tomboy itu, hanya seulas
senyum mengejek yang ia lempar ke arah waria tadi.
“pacaran
kan kalian? Dasar lesbi !” umpat waria itu
“diih,
kita sama-sama cewek kali, mana mungkin pacaran..” dengan muka rada pucet
wanita feminim mencoba menyangkal.
Perbincangan
itu berhenti, sejenak aku toleh kan wajahku ke arah mereka, maklum dari tadi
aku hanya bisa menundukkan pandangan, menutupi rasa takut campur heran yang sedang
menggentayangiku. Aku lihat ke arah 4 makhluk edan itu, tetap tatapan mereka
mengisyaratkan ejekan kepada si banci. Lain hal nya ketika aku mencoba melihat
ke arah sosok waria yang tepat berada di hadapanku, sungguh sobat, melihat
sorot matanya, aku bisa membayangkan betapa banyak tatapan mata mengejek yang
sudah dia temui, betapa sulit jalan hidup yang harus dia lalui sebagai
konsekuensi dari keputusan tak biasa yang telah ia pilih sebagai jalan
hidupnya. Tapi lagi-lagi tidak berhak kita sebagai manusia terlalu menghakimi
kaum sejenis ini..
Wahai
sahabat, sepanjang perjalanan banyak hal yang aku fikirkan, berkaitan dengan
waria itu tentunya. Semakin sering aku melihat kearahnya semakin jelas pula guratan-guratan
kesedihan yang terpancar dari wajah yang tertutup make up, beda dari waria pada
umumnya yang menggunakan make up sangat mencolok, sosok di depanku ini hanya
menggunakan make up ala kadarnya, entah karena hari sudah malam dan make up itu
mulai terhapus, atau karena memang sosok ini berbeda dengan waria pada umumnya.
Agak
sotoy memang, tapi aku merasa sosok di hadapanku ini baik dan tidak pantas
untuk mendapatkan perlakuan sehina itu. Maaf jika aku terlalu iba bahkan
simpatik padanya, aku hanya mencoba meresapi dan membayangkan jika aku ada di
posisi seperti dia sekarang. Aku bingung harus menyebut sosok itu dengan
sebutan wanita atau pria, silahkan kalian tentukan sendiri mana yang lebih
pantas.
“kiri
bang” waria itu turun
Dengan
langkah gontai dia mulai berjalan menyusuri jalanan yang kejam. Lekat-lekat aku
tatap sosok itu hingga menghilang di tikungan jalan.. bahkan walaupun hanya
terlihat dari belakang, aku masih bisa merasakan nelangsa dalam hatinya. Kegeramanku
memuncak ketika melihat ada orang yang dilecehkan hanya karena keterbatasan.
Ingin aku membela namun aku tidak ingin disebut sok pahlawan, sok simpati, sok
baik, dan sok2 lainnya.
Sobat,
kita tidak pernah tau tentang kehidupan orang lain disekitar kita, kita tidak
tau seberapa berat beban yang mereka pikul, tidak pernah tau seberapa banyak
airmata yang telah mengalir dalam curahan hati kepada sang Pencipta. Lagi-lagi
menjadi waria adalah jalan hidup seseorang, ketika mereka merasa nyaman dengan
apa yang mereka jalani kenapa kita harus menyibukkan diri dalam problematika
hidup orang lain? toh kita masih punya seabrek masalah yang harus kita selelsai
kan. Jika kalian merasa kekurangan masalah, maka berhati-hatilah bisa jadi
Tuhan mulai mengacuhkanmu dan tidak perduli dengan mu lagi. Sebab setiap
masalah yang Tuhan berikan pada setiap hambaNya, itu adalah wujud kasih
sayangnya, wujud cinta pada hambanya yang akhirnya akan membuahkan penghargaan
berupa kedudukan yang lebih tinggi di sisiNya.
Sobat,
taukah kalian? ketika ada seorang waria disekeliling kita, bisa jadi itu karena
kesalahan kita, bisa jadi kita kurang memperhatikan mereka dan justru mengabaikan
mereka, padahal sesungguhnya siapa pun berhak mendapatkan kebaikan, berhak
mendapatkan ilmu agama sebagai bekal perjalanan hidupnya, mungkin selama ini
mereka tidak mendapatkan hal itu dari kita hingga akhirnya mereka salah
melangkah.. sebelum memulai mengejek seseorang, tidak ada salahnya jika kita
introspeksi diri sendiri dulu, jika anda sudah merasa menjadi sosok sempurna
yang tidak memiliki kekurangan barulah anda boleh mengejek bahkan menghakimi
orang lain..
Semangat
introspeksi diri.. semoga setiap kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik..
dan lebih baik lagi tiap harinya..
(20
april 2012)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar