nget ngga
waktu masih kecil orang-orang dewasa sering nanya ke kita, “nanti kalo udah
besar mau jadi apa?”. Dan keluarlah berbagai macam jawaban. Ada yang mau jadi
guru, pilot, polisi, insinyur, presiden, artis, atau mungkin ada di antara kita
yang bilang ingin jadi Syahrini (?). Bisa jadi jawaban kita saat itu ngga
dianggap serius atau mungkin hanya dinilai sebagai hiburan bagi orang-orang
dewasa. “Namanya juga anak kecil, biarkan mereka dengan imajinasi mereka masing-masing”,
begitu kata mereka.
Waktu kecil dengan mudahnya
pertanyaan-pertanyaan itu bisa kita jawab. Yang kita sukai, itu lah yang kita
bilang sebagai cita-cita. Tapi sadarkah teman-teman, ketika kita mulai
menginjak remaja, seringkali kita justru tumbuh menjadi remaja-remaja yang
kebingungan soal masa depan. Mau jadi apa kita dimasa depan? Apakah bisa
menjadi seorang yang bermanfaat buat orang lain? Apakah semua cita-cita saya
bisa tercapai? Nanti saya kerja apa ya? Apakah penghasilan saya kelak akan bisa
memenuhi kebutuhan saya dan keluarga? Sadar ngga siih, ternyata banyak
pertanyaan-pertanyaan seputar masa depan yang kadang membuat kita khawatir?
Ngga usah khawatir guys,
pertanyaan-pertanyaan itu wajar kok bagi semua remaja kayak kita-kita gini.
Bahkan bukan Cuma kita aja looh yang khawatir, orang-orang dewasa juga sering
cemas sama masa depan mereka. Apalagi kalo kita lihat kondisi Indonesia saat
ini, dari mulai masalah ekonomi sampe politik yang serba labil, ngga heran kalo
kecemasan itu mudah muncul pada setiap orang. So, tenang aja sob, kamu ngga
sendirian kok.
Tau ngga si? Dari orang normal sampe
yang orang ngga normal (baca: paranormal), ngga ada looh satu orangpun yang tahu
masa depannya kayak apa. Bahkan para nabi dan rasulpun ngga akan pernah tahu
keadaan masa depan kalo bukan karena Allah SWT yang memberikan wahyu kepada mereka.
“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada
yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada di
daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia
mengetahui (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan
tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang
nyata (Lauh Mahfuzh).” (Q.S. Al-An’am:59)
Apa yang kita lakukan hari ini ngga seratus persen menentukan
nasib kita dimasa depan. Mau sekarang kamu jadi siswa paling pinter di kelas
atau jadi siswa yang biasa-biasa aja, itu semua sama sekali ngga menjamin nasib
kita dimasa depan sob. Jadi jangan cemas ketika kamu ngga diterima di sekolah
atau universitas favorit kamu. Ngga usah panik kalo kamu dapet nilai ujian dibawah
enam. Dan ngga perlu juga ngerasa dunia berakhir ketika menyadari fisik kamu
tidak sempurna.
Terkadang pilihan yang benar itu ngga
selalu pilihan yang bisa menyenangkan kita. Bisa jadi justru kita harus
berhadapan dengan berbagai macam kesukaran. Dijauhi temen gara-gara menolak
ajakan nongkrong-nongkrong di mall, diminta belajar serius sama orangtua, harus
belajar disaat temen-temen yang lain lagi asik bergosip, itu semua adalah
sebagian kebaikan yang mungkin suka kita tempatkan sebagai “musuh”.
Terus Apa yang mesti kita kerjakan ketika menghadapi masalah?
Jangan terburu-buru mengambil keputusan sob. Luangkan waktu untuk bisa berpikir
sehat. Tundukkan hati pada pilihan yang Allah mau. Dengan ngikutin yang Allah
ridhai, pilihan kita pasti benar, di dunia juga di akhirat. Jadi inget sabda
Rasulullah SAW,
“Belum sempurna iman seseorang sampai hawa nafsunya mengikuti
apa yang aku bawa,” (Hadits hasan sahih tercantum dalam Kitab Hadits Arba’in
an-Nawawi)
Kalo kata Simone weil, “Bukan urusan
saya untuk memikirkan diri saya sendiri. Urusan saya adalah untuk memikirkan
Tuhan. Dan, urusan-Nya lah untuk memikirkan saya.”
Kebanyakan orang menyakini bahwa dalam hidup ia harus berjuang
meraih semua keinginan dengan berusaha keras, membanting tulang hingga tetes
darah penghabisan. Padahal tuntutan agama menjanjikan berbagai kemudahan atau
kesuksesan akan datang menghampiri jika dalam ikhtiarnya manusia berhasil
bersyukur, menikmati prosesnya, dan menyerahkan seluruh urusan dan kepentingan
hanya kepada Allah, Inilah kompetensi ikhlas yang sesungguhnya.
Wallahualam
bissawab
Masa Depan
Kita? Tawakal Aja!!
nget ngga
waktu masih kecil orang-orang dewasa sering nanya ke kita, “nanti kalo udah
besar mau jadi apa?”. Dan keluarlah berbagai macam jawaban. Ada yang mau jadi
guru, pilot, polisi, insinyur, presiden, artis, atau mungkin ada di antara kita
yang bilang ingin jadi Syahrini (?). Bisa jadi jawaban kita saat itu ngga
dianggap serius atau mungkin hanya dinilai sebagai hiburan bagi orang-orang
dewasa. “Namanya juga anak kecil, biarkan mereka dengan imajinasi mereka masing-masing”,
begitu kata mereka.
Waktu kecil dengan mudahnya
pertanyaan-pertanyaan itu bisa kita jawab. Yang kita sukai, itu lah yang kita
bilang sebagai cita-cita. Tapi sadarkah teman-teman, ketika kita mulai
menginjak remaja, seringkali kita justru tumbuh menjadi remaja-remaja yang
kebingungan soal masa depan. Mau jadi apa kita dimasa depan? Apakah bisa
menjadi seorang yang bermanfaat buat orang lain? Apakah semua cita-cita saya
bisa tercapai? Nanti saya kerja apa ya? Apakah penghasilan saya kelak akan bisa
memenuhi kebutuhan saya dan keluarga? Sadar ngga siih, ternyata banyak
pertanyaan-pertanyaan seputar masa depan yang kadang membuat kita khawatir?
Ngga usah khawatir guys,
pertanyaan-pertanyaan itu wajar kok bagi semua remaja kayak kita-kita gini.
Bahkan bukan Cuma kita aja looh yang khawatir, orang-orang dewasa juga sering
cemas sama masa depan mereka. Apalagi kalo kita lihat kondisi Indonesia saat
ini, dari mulai masalah ekonomi sampe politik yang serba labil, ngga heran kalo
kecemasan itu mudah muncul pada setiap orang. So, tenang aja sob, kamu ngga
sendirian kok.
Tau ngga si? Dari orang normal sampe
yang orang ngga normal (baca: paranormal), ngga ada looh satu orangpun yang tahu
masa depannya kayak apa. Bahkan para nabi dan rasulpun ngga akan pernah tahu
keadaan masa depan kalo bukan karena Allah SWT yang memberikan wahyu kepada mereka.
“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada
yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada di
daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia
mengetahui (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan
tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang
nyata (Lauh Mahfuzh).” (Q.S. Al-An’am:59)
Apa yang kita lakukan hari ini ngga seratus persen menentukan
nasib kita dimasa depan. Mau sekarang kamu jadi siswa paling pinter di kelas
atau jadi siswa yang biasa-biasa aja, itu semua sama sekali ngga menjamin nasib
kita dimasa depan sob. Jadi jangan cemas ketika kamu ngga diterima di sekolah
atau universitas favorit kamu. Ngga usah panik kalo kamu dapet nilai ujian dibawah
enam. Dan ngga perlu juga ngerasa dunia berakhir ketika menyadari fisik kamu
tidak sempurna.
Terkadang pilihan yang benar itu ngga
selalu pilihan yang bisa menyenangkan kita. Bisa jadi justru kita harus
berhadapan dengan berbagai macam kesukaran. Dijauhi temen gara-gara menolak
ajakan nongkrong-nongkrong di mall, diminta belajar serius sama orangtua, harus
belajar disaat temen-temen yang lain lagi asik bergosip, itu semua adalah
sebagian kebaikan yang mungkin suka kita tempatkan sebagai “musuh”.
Terus Apa yang mesti kita kerjakan ketika menghadapi masalah?
Jangan terburu-buru mengambil keputusan sob. Luangkan waktu untuk bisa berpikir
sehat. Tundukkan hati pada pilihan yang Allah mau. Dengan ngikutin yang Allah
ridhai, pilihan kita pasti benar, di dunia juga di akhirat. Jadi inget sabda
Rasulullah SAW,
“Belum sempurna iman seseorang sampai hawa nafsunya mengikuti
apa yang aku bawa,” (Hadits hasan sahih tercantum dalam Kitab Hadits Arba’in
an-Nawawi)
Kalo kata Simone weil, “Bukan urusan
saya untuk memikirkan diri saya sendiri. Urusan saya adalah untuk memikirkan
Tuhan. Dan, urusan-Nya lah untuk memikirkan saya.”
Kebanyakan orang menyakini bahwa dalam hidup ia harus berjuang
meraih semua keinginan dengan berusaha keras, membanting tulang hingga tetes
darah penghabisan. Padahal tuntutan agama menjanjikan berbagai kemudahan atau
kesuksesan akan datang menghampiri jika dalam ikhtiarnya manusia berhasil
bersyukur, menikmati prosesnya, dan menyerahkan seluruh urusan dan kepentingan
hanya kepada Allah, Inilah kompetensi ikhlas yang sesungguhnya.
Wallahualam
bissawab