Kamis, 28 November 2013

Masa Depan Kita? Tawakal Aja!!



I
nget ngga waktu masih kecil orang-orang dewasa sering nanya ke kita, “nanti kalo udah besar mau jadi apa?”. Dan keluarlah berbagai macam jawaban. Ada yang mau jadi guru, pilot, polisi, insinyur, presiden, artis, atau mungkin ada di antara kita yang bilang ingin jadi Syahrini (?). Bisa jadi jawaban kita saat itu ngga dianggap serius atau mungkin hanya dinilai sebagai hiburan bagi orang-orang dewasa. “Namanya juga anak kecil, biarkan mereka dengan imajinasi mereka masing-masing”, begitu kata mereka.
          Waktu kecil dengan mudahnya pertanyaan-pertanyaan itu bisa kita jawab. Yang kita sukai, itu lah yang kita bilang sebagai cita-cita. Tapi sadarkah teman-teman, ketika kita mulai menginjak remaja, seringkali kita justru tumbuh menjadi remaja-remaja yang kebingungan soal masa depan. Mau jadi apa kita dimasa depan? Apakah bisa menjadi seorang yang bermanfaat buat orang lain? Apakah semua cita-cita saya bisa tercapai? Nanti saya kerja apa ya? Apakah penghasilan saya kelak akan bisa memenuhi kebutuhan saya dan keluarga? Sadar ngga siih, ternyata banyak pertanyaan-pertanyaan seputar masa depan yang kadang membuat kita khawatir?
          Ngga usah khawatir guys, pertanyaan-pertanyaan itu wajar kok bagi semua remaja kayak kita-kita gini. Bahkan bukan Cuma kita aja looh yang khawatir, orang-orang dewasa juga sering cemas sama masa depan mereka. Apalagi kalo kita lihat kondisi Indonesia saat ini, dari mulai masalah ekonomi sampe politik yang serba labil, ngga heran kalo kecemasan itu mudah muncul pada setiap orang. So, tenang aja sob, kamu ngga sendirian kok.
          Tau ngga si? Dari orang normal sampe yang orang ngga normal (baca: paranormal), ngga ada looh satu orangpun yang tahu masa depannya kayak apa. Bahkan para nabi dan rasulpun ngga akan pernah tahu keadaan masa depan kalo bukan karena  Allah SWT yang memberikan wahyu kepada mereka.
“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahui (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (Q.S. Al-An’am:59)
          Apa yang kita lakukan hari ini ngga seratus persen menentukan nasib kita dimasa depan. Mau sekarang kamu jadi siswa paling pinter di kelas atau jadi siswa yang biasa-biasa aja, itu semua sama sekali ngga menjamin nasib kita dimasa depan sob. Jadi jangan cemas ketika kamu ngga diterima di sekolah atau universitas favorit kamu. Ngga usah panik kalo kamu dapet nilai ujian dibawah enam. Dan ngga perlu juga ngerasa dunia berakhir ketika menyadari fisik kamu tidak sempurna.
          Terkadang pilihan yang benar itu ngga selalu pilihan yang bisa menyenangkan kita. Bisa jadi justru kita harus berhadapan dengan berbagai macam kesukaran. Dijauhi temen gara-gara menolak ajakan nongkrong-nongkrong di mall, diminta belajar serius sama orangtua, harus belajar disaat temen-temen yang lain lagi asik bergosip, itu semua adalah sebagian kebaikan yang mungkin suka kita tempatkan sebagai “musuh”.
Terus Apa yang mesti kita kerjakan ketika menghadapi masalah? Jangan terburu-buru mengambil keputusan sob. Luangkan waktu untuk bisa berpikir sehat. Tundukkan hati pada pilihan yang Allah mau. Dengan ngikutin yang Allah ridhai, pilihan kita pasti benar, di dunia juga di akhirat. Jadi inget sabda Rasulullah SAW,
“Belum sempurna iman seseorang sampai hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa,” (Hadits hasan sahih tercantum dalam Kitab Hadits Arba’in an-Nawawi)
          Kalo kata Simone weil, “Bukan urusan saya untuk memikirkan diri saya sendiri. Urusan saya adalah untuk memikirkan Tuhan. Dan, urusan-Nya lah untuk memikirkan saya.”
Kebanyakan orang menyakini bahwa dalam hidup ia harus berjuang meraih semua keinginan dengan berusaha keras, membanting tulang hingga tetes darah penghabisan. Padahal tuntutan agama menjanjikan berbagai kemudahan atau kesuksesan akan datang menghampiri jika dalam ikhtiarnya manusia berhasil bersyukur, menikmati prosesnya, dan menyerahkan seluruh urusan dan kepentingan hanya kepada Allah, Inilah kompetensi ikhlas yang sesungguhnya.
Wallahualam bissawab




 Masa Depan Kita? Tawakal Aja!!
I
nget ngga waktu masih kecil orang-orang dewasa sering nanya ke kita, “nanti kalo udah besar mau jadi apa?”. Dan keluarlah berbagai macam jawaban. Ada yang mau jadi guru, pilot, polisi, insinyur, presiden, artis, atau mungkin ada di antara kita yang bilang ingin jadi Syahrini (?). Bisa jadi jawaban kita saat itu ngga dianggap serius atau mungkin hanya dinilai sebagai hiburan bagi orang-orang dewasa. “Namanya juga anak kecil, biarkan mereka dengan imajinasi mereka masing-masing”, begitu kata mereka.
          Waktu kecil dengan mudahnya pertanyaan-pertanyaan itu bisa kita jawab. Yang kita sukai, itu lah yang kita bilang sebagai cita-cita. Tapi sadarkah teman-teman, ketika kita mulai menginjak remaja, seringkali kita justru tumbuh menjadi remaja-remaja yang kebingungan soal masa depan. Mau jadi apa kita dimasa depan? Apakah bisa menjadi seorang yang bermanfaat buat orang lain? Apakah semua cita-cita saya bisa tercapai? Nanti saya kerja apa ya? Apakah penghasilan saya kelak akan bisa memenuhi kebutuhan saya dan keluarga? Sadar ngga siih, ternyata banyak pertanyaan-pertanyaan seputar masa depan yang kadang membuat kita khawatir?
          Ngga usah khawatir guys, pertanyaan-pertanyaan itu wajar kok bagi semua remaja kayak kita-kita gini. Bahkan bukan Cuma kita aja looh yang khawatir, orang-orang dewasa juga sering cemas sama masa depan mereka. Apalagi kalo kita lihat kondisi Indonesia saat ini, dari mulai masalah ekonomi sampe politik yang serba labil, ngga heran kalo kecemasan itu mudah muncul pada setiap orang. So, tenang aja sob, kamu ngga sendirian kok.
          Tau ngga si? Dari orang normal sampe yang orang ngga normal (baca: paranormal), ngga ada looh satu orangpun yang tahu masa depannya kayak apa. Bahkan para nabi dan rasulpun ngga akan pernah tahu keadaan masa depan kalo bukan karena  Allah SWT yang memberikan wahyu kepada mereka.
“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahui (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (Q.S. Al-An’am:59)
          Apa yang kita lakukan hari ini ngga seratus persen menentukan nasib kita dimasa depan. Mau sekarang kamu jadi siswa paling pinter di kelas atau jadi siswa yang biasa-biasa aja, itu semua sama sekali ngga menjamin nasib kita dimasa depan sob. Jadi jangan cemas ketika kamu ngga diterima di sekolah atau universitas favorit kamu. Ngga usah panik kalo kamu dapet nilai ujian dibawah enam. Dan ngga perlu juga ngerasa dunia berakhir ketika menyadari fisik kamu tidak sempurna.
          Terkadang pilihan yang benar itu ngga selalu pilihan yang bisa menyenangkan kita. Bisa jadi justru kita harus berhadapan dengan berbagai macam kesukaran. Dijauhi temen gara-gara menolak ajakan nongkrong-nongkrong di mall, diminta belajar serius sama orangtua, harus belajar disaat temen-temen yang lain lagi asik bergosip, itu semua adalah sebagian kebaikan yang mungkin suka kita tempatkan sebagai “musuh”.
Terus Apa yang mesti kita kerjakan ketika menghadapi masalah? Jangan terburu-buru mengambil keputusan sob. Luangkan waktu untuk bisa berpikir sehat. Tundukkan hati pada pilihan yang Allah mau. Dengan ngikutin yang Allah ridhai, pilihan kita pasti benar, di dunia juga di akhirat. Jadi inget sabda Rasulullah SAW,
“Belum sempurna iman seseorang sampai hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa,” (Hadits hasan sahih tercantum dalam Kitab Hadits Arba’in an-Nawawi)
          Kalo kata Simone weil, “Bukan urusan saya untuk memikirkan diri saya sendiri. Urusan saya adalah untuk memikirkan Tuhan. Dan, urusan-Nya lah untuk memikirkan saya.”
Kebanyakan orang menyakini bahwa dalam hidup ia harus berjuang meraih semua keinginan dengan berusaha keras, membanting tulang hingga tetes darah penghabisan. Padahal tuntutan agama menjanjikan berbagai kemudahan atau kesuksesan akan datang menghampiri jika dalam ikhtiarnya manusia berhasil bersyukur, menikmati prosesnya, dan menyerahkan seluruh urusan dan kepentingan hanya kepada Allah, Inilah kompetensi ikhlas yang sesungguhnya.
Wallahualam bissawab




Tidak ada komentar:

Posting Komentar