Kamis, 28 November 2013

CUMA Buat Si Miskin yang Pintar


Ketika Melihat pengumuman beasiswa maka persyaratan yang tertera disana adalah “Jumlah minimal IPK” dan selanjutnya “melampirkan surat keterangan tidak mampu”. Dapatkah kita simpulkan bahwa kebanyakan beasiswa yang ada ditujukan  untuk seorang yang miskin dan tentu juga memiliki tingkat kecerdasan yang baik? Sekilas terlihat tidak bermasalah bukan? Tapi coba pahami kalimat ini baik-baik:
“Setiap warga Negara berhak mendapat pendidikan.” (Pasal 31 ayat (1) UUD 1945)
Setiap Warga Negara. Berarti seluruh masyarakat Indonesia, mau yang pintar atau yang bodoh, mau kaya atau miskin, mau cakep atau jelek, mau bersemangat atau tidak bersemangat. Tapi ketika dilihat dari persyaratan penerimaan beasiswa seperti tertulis diatas, yang jelas terasa adalah bahwa pendidikan di Indonesia seolah-olah hanya memihak pada sebagian orang saja. Kasihan si miskin yang bodoh. Bahkan keberadaannya seolah tersingkirkan dan hampir-hampir terlupakan.
Lantas tiba-tiba aku berkhayal. Kasihan sekali si miskin yang bodoh, yang ternyata hidupnya sebagian besar diliputi ketidak beruntungan. Seandainya ia bisa sedikit saja seberuntung temannya ,si miskin yang pintar, pasti kebodohannya akan sedikit berkurang. Tapi apa mungkin si miskin yang bodoh bisa berubah jadi pintar? Bukankah sekeras-sekerasnya batu kali, ketika terus menerus ditetesi air maka suatu saat nanti dia akan lapuk juga? Begitu juga dengan si miskin, seberapa bodohpun orang, ketika ia terus menerus diberikan sarana untuk belajar, bukankah lama-kelamaan akan bertambah juga kepintarannya?
Lantas siapa yang perlu disalahkan? Tidak cukup bijaksana kalau kita hanya bisa menyalahi orang atas sebuah peristiwa. Saya pernah berbincang dengan seorang teman mengenai hal ini, lantas yang saya dapatkan adalah sebuah kalimat, “terkadang orang-orang kayak gitu semangatnya kurang buat belajar. Untuk apa semua orang miskin yang bodoh diberikan beasiswa untuk belajar jika akhirnya justru hanya disia-siakan?” mungkin perkataan ini ada benarnya. Tapi bukankah Negara Indonesia lahir dari sebuah kalimat optimis?
Katanya Indonesia sudah merdeka looh kawan-kawan. Benarkah? Jauh-jauh hari Soekarno telah memperingatkan bangsa ini agar tidak terlena oleh kemerdekaan yang katanya sudah tercapai. Sadar ataupun tidak. Saat ini Indonesia sedang mengalami penindasan gaya baru. Karena pada hakikatnya sudah menjadi suatu hal yang lumrah di dunia ini akan ada penindas dan orang-orang yang tertindas. Indonesia katanya sedang mulai menujukkan diri dimuka dunia. Tapi yang kita rasakan justru Indonesia sering kali menjadi kaum yang tertindas. Tertindas oleh siapa? Ada yang bilang penindas yang berbahaya bukanlah penindas dari bangsa lain, melainkan penindas dari bangsa sendiri. Lantas apa hubungannya dengan pendidikan Indonesia saat ini?
Pendidikan haruslah menumbuhkan sikap kritis, melahirkan manusia yang empati dan humanis, serta tidak diskriminatif. Peran pendidikan adalah penggerak utama kehidupan manusia guna mewujudkan masyarakat sosialistis Indonesia. Keadilan di Indonesia hanya bagi segolongan kecil, yaitu si penjajah (orang yang kuat). Bagi bangsa Indonesia yang berhak atas negeri itu, tak ada keadilan dan pengadilan. Falsafah pendidikan nasional menegaskan bahwa tidak seorangpun dapat ditolak untuk mendapat pendidikan yang lebih tinggi atas alasan-alasan material,  ya karena misalnya ia miskin. Karena itu sekolah-sekolah semacam “pintu air” akan menimbulkan klasifikasi antara sekolah-sekolah untuk orang kaya dan miskin. Apakah yang lebih tidak adil selain daripada mendidik sebagian kecil anak-anak orang kaya dan membiarkan sebagian besar rakyat miskin tetap bodoh?
Kalau seperti ini, di mana ruang harapan masa depan generasi muda Indonessia? Amanat konstitusi menyatakan bahwa setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasar, yakni mendapatkan pendidikan dan manfaat dari ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya untuk meningkatkan kuailitas hidupnya.
Apa yang salah dengan pendidikan Indonesia? Bukannya Salah satu jalan pemutus lingkaran kemiskinan adalah dengan pendidikan yang tinggi? Kemiskinan adalah absen nya seluruh hak azasi manusia. Frustasi, kemiskinan, dan kemarahan yang disebabkan oleh kemiskinan akut tidak bisa memupuk perdamaian dalam masyarakat manapun.
                Hai Rakyat Melarat!!
Berapa lamakah lagi kamu mau menderita injakan dan tindasan semacam ini? tidakkah kamu tahu bahwa sangat besar kekuatanmu yang tersembunyi? Tidakkah kamu insaf bahwa kerukunanmu artinya kemerdekaan buat kamu dan keturunanmu? Beranikah kamu terus hidup dalam perbudakan dan menyarankan anak cucumu juga jadi budak?

                

Tidak ada komentar:

Posting Komentar