Hari ini aku kembali menyaksikan ketika dengan
seenaknya seorang dosen membatalkan jam kuliah 5 menit sebelum waktunya. Aku
baru saja turun dari busway, dan harus menelan pil pahit sebagai akibat dari
jarkoman mendadak itu. Kesal. Kenapa sebagian besar dosen bersikap seenaknya?
Oke, mungkin mereka sibuk dengan urusan yang bisa jadi lebih penting bagi
mereka. Ya, mungkin disaat-saat seperti ini kami sedang diajarkan arti
kedewasaan yang sesungguhnya. Dewasa melihat segala tingkah dosen yang tidak
menunjukkan kedewasaan.
Akhir-akhir ini aku tersadar akan
sesuatu. Bahwa sesungguhnya militansi bukan sekedar membicarakan sudah berapa
kali seorang aktivis turun kejalan. Tapi militansi adalah ketika seorang
aktivis yang begitu vocal dijalan tetap bisa menunjukkan prestasinya dibidang
akademik, minimal IP harus diatas 3. Ya ya ya. Aku sadar ada yang salah dalam
diri ini. Dan aku sadar harus ada yang diperbaiki. Untuk itulah akhir-akhir ini
aku berusaha untuk serius menerima setiap pelajaran didalam kelas, setidaknya
otakku tidak kosong. Kadang aku berpikir, beberapa hari ini aku banyak membaca
buku, tapi bisakah aku mengganti semua buku yang ku baca dengan buku-buku
kuliahku? Ya, mungkin aku harus mempertimbangkan itu. Karna sejujurnya, ada
ketakutan akan nilai IP ku pada semester ini. Semester yang terasa sangat
menyeramkan. Tapi semoga Tuhan meloloskan aku di semester ini.. aamiin
Dan berita buruknya adalah Wiley
telah datang. Setelah 2 bulan menunggu kepastian ternyata inilah kenyataan yang
harus diterima. Di waktu perkuliahan yang tinggal 1 bulan lagi ini ternyata
tetap harus merogoh kocek yang lumayan dalam. Bayangkan, 5ooribu hanya dipakai
dalam waktu 1 bulan, mubazirkah? Ya, buatku. Terlebih dengan uang BM yang belum
terlihat kepastiannya. Kalau begini maka aku harus segera membayar 500ribu itu,
tapi sampai saat ini saldo direkeningku
masih belum bertambah juga. Lantas aku harus bagaimana? Allah, segera beri
kepastian mengenai uang BM-ku itu, segera cairkan uang itu yaa Allah, aku
sangat membutuhkannya saat ini. Aku rasa aku sudah sangat bersadar menanti sang
“kekasih” datang, tapi kenapa tak kunjung tiba? Ada yang salahkah?
Dan ketika kereta yang aku tumpangi harus tertahan
di pasar minggu hampir setengah jam karena ada kecelakaan di rel kereta tanjung
barat. Entah siapa yang memulai. Kereta menabrak mobil? Atau mobil menabrak
kereta? Aku jadi ingat kata seorang yang juga menumpang kereta, katanya
“haduuh, Cuma gara-gara satu orang jadi ngerugiin ribuan orang”. Aku jadi berpikir,
kasihan sekali si korban, sudah malang ditabrak kereta, masih harus dihujat
orang. Siapa yang ingin dirinya ditabrak kereta? Bisa jadi dia hanya bernasib
sial hari ini. Tapi untukku, bisa jadi memang Tuhan sedang menyuruhku untuk
terdiam, memandangi kelakuan orang-orang sekitar, dan menarik kesimpulan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar