"Coba deeh kalian main ke perpustakaan Freedom, disana asiik juga tempatnya. Banyak buku-buku bagus disana. kalian bisa baca apa aja, asalkan jangan baca yang berkaitan dengan agama."Tiba-tiba kata-kata itu kembali terlihat saat aku bersama seorang temanku, denis, sedang melangkahkan kaki keluar kampus untuk kemudian menuju Perpustakaan Nasional di daerah Monas. Sudah berbulan-bukan KTM-ku disana dan belum sempat aku ambil. Hari ini aku berniat untuk kesana, mengambil kartu tanda mahasiswa-ku. Dalam perjalanan menuju keluar gerbang kampus, tiba-tiba Denis bercerita tentang sebuah buku yang tengah Ia baca. buku yang menceritakan tentang salah satu sosok pemuda terbaik yang pernah dimiliki bangsa ini, Soe Hok Gie. Aku pernah mendengar nama itu, walaupun baru beberapa bulan ini. Tapi aku masih buta, siapa sebenarnya sosok Soe Hok Gie itu. Sudah ada dalam list daftar buku yang harus ku cari, buku tentang Soe Hok Gie, tapi akhir-akhir ini aku sibuk berkutat dengan Tan Malaka, sampai -sampai aku belum mulai menjamah lebih dalam sosok Soe Hok Gie tersebut.
Niatan semula ingin pergi ke perpustakaan Nasional tiba-tiba berganti arah menuju perpustakaan Freedom (atau biasa diseut juga Freedom Institute). Entah dimana letak perpustakaan tersebut, yang aku tau, aku ingin sekali melangkahkan kakiku kesana. Berharap bisa menemukan sebuah buku yang berkaitan dengan sosok Soe Hok Gie. Hanya bermodal internet dan GPS, kami, aku dan denis, mencoba menapaki jalan, mera-raba kemana kami harus terus berjalan. hanpir 15 menit kami meyusuri jalan. Berputar-putar. Bertanya pada banyak orang yang kami temui dijalan. Sampai pada akhirnya kami menemukan tujuan akhir kami, Institute Freedom.
Kesan Pertama yang didapat adalah perpustakaan ini bener-bener beda dari perpustakaan yang lainnya. Terkesan modern dan indah. Masuk ke dalamnya membuat kami merasa seperi baru saja masuk kesebuah sekte rahasia. Misterius. Semua orang disana Terlihat misterius. Mungkin ini hanya perasaan kami. Tapi yang pasti, kesan pertama tadi begitu membekas di hati kami. Bukan lantas kami kapok dan enggan untuk kesana lagi. Justru kami "ketagihan" ingin berkunjung kesana untu kesekian kalinya. Banyak hal yang tidak biasa disana. Dan yang paling Berkesan untukku adalah, disanalah untuk kali pertama aku berkenalan dengan sosok pemuda itu, sosok hebat yang selanjutnya pasti akan mempengaruhi kehidupanku, langsung atau tidak langsung, sadar atau tidak sadar. Selamat datang, selamat bangkit kembali wahai pemuda kesepian, dan silahkan membuatku kagum sekagum-kagumnya pada sosokmu, Soe Hok Gie.. :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar