“Mereka menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanyalah menipu diri sendiri tanpa mereka sadari” – Q.S. Al-Baqarah:9
Aku merasa ada
jiwa-jiwa pemberontak dalam diri ini. Entah ini bisa dibilang normal atau
tidak. Aku tidak menyukai ada sekat. Tidak suka banyak aturan. Walaupun aku
sadar, dalam hidup pasti akan ada aturan-aturan yang akan mengarahkan hidup
kita dijalan kebenaran. Aku memang tidak menyukai terlalu banyak aturan, tapi
itu bukan berarti aku sama sekali tidak menghiraukan aturan-aturan yang kerap
kali berbenturan dalam hidupku. Aku tetap sebisa mungkin mematuhi aturan itu,
walau terkadang aku harus “menyiksa” diri dan hanya bisa menggerutu dalam hati.
Lantas ada apa dengan
ayat di atas? Ada kekhwatiran ketika secara tidak sengaja aku menemukan ayat
itu. Khawatir kalau-kalau ternyata apa yang aku lakukan selama ini tidak lain
hanya upaya untuk menipu orang lain. Ada naluri pemberontak dalam diri, yang
selalu aku coba bentengi dengan keyakinan dan pengetahuan yang aku miliki.
Naluri pemberontak yang coba aku pagari dengan mengingat-ingat konsekuensi yang
akan aku dapati jika “radikalisme” itu pada akhirnya harus muncul. Miris adalah
ketika mendengar orang lain berpikiran positif dan terlalu memberikan
ekspektasi yang besar pada diri kita, padahal kita tau bahwa sebagian besar
penilaian justru tidak sesuai dengan kapasitas diri kita. Mungkin benar aku
sedang menipu orang-orang itu. Mungkin benar aku sedang menipu diri sendiri.
Dan aku tidak menyadari itu. Tapi semoga semua tipuanku terhadap diriku selama
ini bisa menjad sesuatu yang selalu mengarahkan aku pada kebaikan.
(Rabu, 27 November 2013)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar